KOLABORASI ANTAR PUSAT PENELITIAN LIMNOLOGI – LIPI, UNIVERSITI SAINS MALAYSIA (USM) DAN SEALNET DALAM KONFERENSI INTERNASONAL TENTANG EKOLOGI DAN BIODIVERSITAS PADA BULAN AGUSTUS 2018

April 13, 2018

Sebagai salah satu hasil dari pertemuan World Lake Conference (WLC) di Bali bulan November 2016, telah disepakati membangun jaringan kerja sama antar peneliti di kawasan ASEAN, khususnya bidang limnologi melalui SealNet (Southeast Asian Limnological Network).  Tujuannya untuk mendorong kajian bersama, khususnya perairan darat tropis yang kaya keanekaragaman dan keunikannya, berbeda dengan wilayah sub-tropis.  Puslit Limnologi sebagai salah satu panitia WLC 2016, diminta menjadi sekretariat SealNet dalam menjalankan kegiatan organisasi tersebut

Salah satu kegiatan yang akan diselenggarakan adalah Konferensi Internasional tentang ekologi dan biodiversitas di Penag, Malaysia.  Pihak USM sebagai panitia dan Puslit Limnologi LIPI sebagai co-organizer dengan dibantu anggota SealNet lainnya.  Selain konferensi dan pelatihan, juga akan ada pertemuan SealNet pertama untuk membahas program-program ke depan yang berpotensi bisa dilaksanakan.  Harapannya, dengan pertemuan ini, dapat dilakukan komunikasi dan berbagi pengalaman antar negara-negara ASEAN dalam pengelolaan perairan darat.

Selain itu, makalah terpilih dan disajikan dalam konferensi akan diterbitkan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Sciences, yang diindeks Scopus, serta EI Compendex dan Inspec.

Untuk keterangan lebih lengkapnya tentang kegiatan ini, bisa dilihat dalam https://usmicebats2018.wixsite.com/icebats2018 atau brosur di bawah ini.

 

COLLABORATION AMONG RESEARCH CENTRE FOR LIMNOLOGY – LIPI, UNIVERSITI SAINS MALAYSIA (USM) AND SEALNET IN THE FRAMEWORK OF INTERNATIONAL CONFERENCE ON ECOLOGY AND BIODIVERSITY IN AUGUST 2018

As one of the outcomes of the World Lake Conference (WLC) – Bali in November 2016, it was agreed to build a network of collaborators among researchers in the ASEAN region, particularly in the limnology field through SealNet (Southeast Asian Limnological Network).  The goal is to encourage joint study, particularly the tropical inland waters which rich in biodiversity and uniqueness, different character to the sub-tropical regions.  Research Centre for Limnology – LIPI as one of the WLC Bali 2016 committees, was asked to be the secretariat of SealNet in organizing the Sealnet’s activities.

One of the activities to be held this year is the International Conference on ecology and biodiversity in Penang, Malaysia.  USM as a committee and Research Centre for Limnology – LIPI as a co-organizer with the support of other members of SealNet.  In addition, besides the programs in this conference (seminar, discussion and and training), there will also be the first SealNet meetings to leverage future programs that could potentially be implemented.  The objective of this meeting, communication and sharing experiences among ASEAN countries in the management of inland waters could be conducted.

In addition, Selected papers and presented in coference will be published in IOP Conference Series: Earth and Environmental Sciences, a publication that is indexed in Scopus, as well as EI Compendex and Inspec.

For more details about this event, please look in https://usmicebats2018.wixsite.com/icebats2018 or the brochure below.

-LS-

Advertisements

2nd TDP post-drilling workshop

February 17, 2018

January 22-24, 2018 Makassar, Indonesia

Source Picture: Team TDP 2018

The Workshop goals are to:

– Update the team on analytical progress, emerging interpretations, and challenges

– Summarize results and key findings

– Synthesize datasets and identify synergies between the different working groups

– Develop a concrete publication strategy and timeline

 

Workshop Venue

The workshop will be held at Aston Hotel, a 4-star business hotel near the port of Makassar. You have all been booked into prepaid rooms for the duration of your stay; however, you will need to settle any room charges upon checkout. Hotel Aston is located near Losari Beach, a great area for walking and for local restaurants.


Super Blue Blood Moon yang tak biru ataupun berdarah

February 1, 2018

Jagat raya sudah heboh dengan fenomena alam pada Rabu (31/1), pukul 18.48 WIB sampai dengan pukul 22.11 WIB, akan terlihat di sebagian besar negara-negara di Planet Biru di Galaksi Bima Sakti ini, termasuk di seluruh wilayah Indonesia.

Fenomena alam tersebut adalah fenomena gerhana bulan yang terjadi bersamaan pada saat bulan yang merupakan satelit alami bumi berada di titik terdekat dengan bumi yang dikenal dengan istilah supermoon. Dan kebetulan lainnya adalah purnama pada rabu adalah hari adalah yang kedua terjadi di bulan Januari 2018.

Ya, bulan purnama sudah terjadi pada 1 Januari 2018 dan kembali akan terjadi pada 31 Januari 2018. Dengan alasan itu maka dikenal dengan istilah blue moon atau bulan biru.  Jadi Rabu malam, kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, bulan akan tampak lebih besar dari purnama biasanya karena berada pada titik terdekat dengan bumi dan pada saat bersamaan akan terlihat merah seperti darah karena terjadi gerhana bulan.

Pada saat gerhana bulan terjadi, ia menjelaskan bahwa satelit bumi selalu menampakkan warna merah seperti darah karena itu disebut blood moon.   “Publik menganggap fenomena ini berbeda, tapi secara astronomis gerhana bulan pada saat bulan di titik terdekat dengan bumi ini fenomena biasa. Ini menjadi luar biasa karena media massa menamakannya `super blue blood moon` karena bulan purnama yang kedua ini akan tampak lebih besar dan berwarna merah,” ujar Thomas.

Fase gerhana bulan

Kepala Lapan mengatakan gerhana bulan akan mulai terjadi pada pukul 18.48 WIB di mulai dari sisi bawah atau sisi timur purnama yang tergelapi. Kemudian totalitas akan terjadi pada pukul 19.52 WIB.  Pada saat itu, lanjutnya, bulan tidak akan gelap total karena masih ada cahaya matahari yang dipantulkan atau dibiaskan oleh atmosfer bumi. Warna merah matahari akan diteruskan, membuat warna bulan menjadi merah seperti daerah.  Totalitas gerhana bulan akan terjadi sampai pukul 21.08 WIB.
“Jadi totalitasnya terjadi sekitar satu jam,” ujar dia.

Fase gerhana bulan sebagian akan terjadi lagi, di mulai dari sisi kanan bawah dan purnama mulai kembali tersibak. Fase tersebut akan selesai pukul 22.11 WIB.   Fase gerhana ini aman untuk dilihat dengan mata telanjang sama seperti saat melihat bulan purnama, sehingga tidak perlu menggunakan alat khusus. Dengan binokuler atau teleskop tentu akan bisa melihat gerhana secara lebih detil, bagian kawah-kawah di bulan dan pergeseran gelap di purnama tersebut.

Dampak gerhana bulan

Bulan mempunyai dampak terhadap pasang surut air laut. Pada saat purnama, bulan berada hampir sejajar dengan matahari, sehingga efek air pasang bulan diperkuat oleh gravitasi matahari.
“Ditambah dengan kondisi `supermoon` di mana jarak bulan sangat dekat tentu akan menambah efek pasang. Pada saat gerhana, posisi matahari, bumi dan bulan benar-benar pada posisi segaris dan efeknya semakin tinggi pasang-surutnya,? lanjutnya.

Jadi, Thomas mengatakan masyarakat di daerah pesisir yang perlu waspada, terutama mereka yang berada di pantai yang landai karena berpotensi terkena banjir pasang. Dalam kondisi yang biasa memang akan terjadi genangan air saja, tapi jika dikombinasikan dengan cuaca buruk di laut tentu air limpasannya akan lebih tinggi.
Dan jika pada saat bersamaan di darat terjadi hujan maka banjir, menurut dia, akan semakin lama untuk surut.

Pernyataan ini sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang meminta masyarakat waspada terhadap tinggi pasang maksimum dapat mencapai 100 hingga 140 centimeter (cm), dan surut minimum dapat mencapai minus 100 sampai 110 cm.
Thomas mengatakan kondisi pasang-surut tersebut terjadi dua hari sebelum dan dua hari setelah gerhana atau purnama terjadi.

Jika dikaitkan dengan gempa bumi, Thomas menjelaskan hingga saat ini tidak ada teknologi maupun orang yang mampu meramalkan kapan dan di lokasi mana akan terjadi. Namun gerhana atau bulan baru atau purnama bisa berpotensi menjadi pemicu terjadinya gempa.

Aktivitas lempeng Indo-australia dari selatan Jawa atau dari barat Sumatera yang menyusup ke lempeng Eurasia bisa tertahan pada saat purnama atau bulan baru atau saat gerhana. Dengan demikian terdapat energi yang tersimpan di sana yang tidak dapat diketahui kapan akan terlepas, lanjutnya.

Tidak dapat diperhitungkan seberapa persen dampak gerhana atau purnama bisa memicu gempa bumi mengingat penelitian belum konklusif. Jika pun menjadi pemicu tentu pelepasan energi pada pergerakan lempeng yang memicu gempa akan terjadi di lokasi yang belum terjadi gempa, bukan lokasi yang baru terjadi gempa.

Bukti bumi bulat

Lebih lanjut, terkait dengan “fenomena” bumi datar, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika ini mengatakan gerhana bulan menjadi momen tepat membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat.
Saat gerhana bulan pada Rabu dan purnama tergelapi dengan sempurna maka yang menggelapinya merupakan bayangan bumi dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Sehingga, menurut dia, gagasan para penggemat bumi datar yang menyebutkan ada obyek yang tidak diketahui yang menutupi bulan itu benar-benar tidak logis.  Untuk membuktikan lagi bahwa bumi itu bulat, maka Thomas mengajak para penggemar gagasan bumi datar untuk membuktikan bahwa fase gerhana benar mulai terjadi pada pukul 18.48 WIB dan totalitas pada pukul 19.52 WIB.
Jika waktu tersebut tepat maka, menurut dia, sistem bulan, bumi dan matahari itu betul dan sudah bisa dihitung. Ini menjadi bukti bumi itu bulat.

Pewarta: Virna Puspa S
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018


NRF Program – Professor of Chonnam National University visited in Research Centre for Limnology

December 13, 2017

Prof Kim JinKwan from Chonnam National University has visited Research Centre for Limnology for Oct 19 – 31, 2017 as NRF program.  Some discussion as below:

Reservoir sediment sources

Maintaining sustainable reservoirs is a serious global problem and requires that the source, composition, and behavior of reservoir sediment be understood in detail. Few studies on seasonal variation in pond sediment sources have been conducted.

Some discussions:
How to handle sedimentation
With flushing / flushing, but this is not suitable because the Saguling Reservoir is part of 3 interconnecting dams. Flushing will only create a problem for the next reservoir (Cirata and Jatiluhur)

With the “finger print” method, we can trace the source of the sedimentation cause (slope or channel). Furthermore, we can focus on rehabilitating the resource area / region

Another way with “reconstruction of sediment rate”,
With this modeling, we can reconstruct the sedimentation velocity from initial conditions to predicted forward by considering landuse changes etc.  Other option is sedimentation dredging technology

Check dam or storage dam to cope with sedimentation
In the discussion came the idea to make a storage dam (before entering the reservoir) to accommodate sedimentation so as not to enter the reservoir. Later, the dredging is routinely carried out at the storage dam.

Rainfall Simulator :
To propose suitable operating conditions for soil erosion and/or landslide experiments.To contribute to better understand and more clarify the results of the previous and future studies of erosion and/or landslide experiments using rainfall simulators

Some pictures: Prof. Kim activities

-LS-


Laut Sulawesi, Perpaduan Garis Wallace dan Arlindo

November 19, 2017

BILA kita menyimak peta Kepulauan Nusantara ketika naturalis berkebangsaan Inggris Alfred Russel Wallace melakukan perjalanan pada abad 19, tak ada nama Laut Sulawesi.  Di peta, Laut Sulawesi masih bernama Soeloe ZEE. Antara Borneo (Kalimantan) dan Filipina tertulis Mindoro ZEE. Peta Kepulauan Nusantara tersebut bersumber dari Natuurkundige Kaart van Insulinde, Wallace en Allen.

Di masa itu, nama Sulawesi dan Laut Sulawesi belum dikenal. Sebutan Sulawesi adalah Celebes seperti ketika Wallace menjejakkan kaki di Makassar pada September–November 1856 dan Juli–November 1857. Begitu pula ketika Wallace tiba di Manado pada Juni–September 1859.  Nama Celebes digunakan pertama kali oleh sejarawan Portugis Tome Pires dalam buku Suma Oriental. Buku ini ditulis di India dan Maluku antara tahun 1512-1515. Orang Portugis berlayar ke kepulauan Maluku–penghasil rempah-rempah–melalui Singapura, Tanjung Putting, dan Buton. Kadang-kadang melalui Makassar, Celebes, Banggai dan Siau.

Peta Celebes pertama bangsa Portugis dilukis sesudah pelayaran Antonio de Paiva, pada 1544. Antonio de Paiva pernah tinggal selama setahun di Makassar (1542-1543), lalu melukis pulau Celebes.  Peta ini seperti dalam sejarah geologi Sulawesi sebelum peristiwa tabrakan dengan Sulawesi Timur. Hanya memanjang dengan beberapa teluk di semenanjung Sulawesi Selatan.  Di ujung utara Sulawesi, seperti disebutkan Christian Pelras (2006), Ponta de Celebes (Tanjung Celebes), Celebes Regiam (daerah Celebes), di sebelah barat terbaca Tetoly (Toli-toli), juga tertulis AeQUINOCT (Katulistiwa).

Laut Sulawesi

Kini Soeloe ZEE seperti dalam peta Wallace menjadi Laut Sulawesi dan Mindoro ZEE berganti nama menjadi Laut Sulu. Negara yang secara langsung masuk dalam perwilayahan di Laut Sulawesi, yakni Indonesia, Filipina dan Malaysia.  Di Indonesia, Laut Sulawesi membentang dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Laut Sulawesi masuk dalam Kawasan Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle). Kawasan ini mencakup enam negara di dunia, masing-masing Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.

Laut Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi tulang punggung bagi kehidupan masyarakat pesisir yang bertumpu pada mata pencaharian dari laut. Mereka ini menangkap ikan karang, demersal dan pelagis, serta kegiatan budidaya.

Di Laut Sulawesi, berdasarkan hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2014 yang telah dilakukan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), ada beberapa temuan baru.  Temuan ini mengonfirmasi hasil penelitian sebelumnya. Seperti spesies fitoplankton Asteromphalus hyalinus yang biasanya hanya hidup di perairan dingin, di laut beriklim sub-tropika dan Arktik, telah ditemukan di Laut Sulawesi.  Kemudian fitoplankton spesies Bellerochea horologicales yang berkembang di perairan Florida (Gulf of Mexico) dan Meville (Australia). Belum ada laporan spesies ini hidup di perairan tropis. Fitoplankton ornithocercus diduga jenis baru karena belum ditemukan dalam literatur.

Garis Wallace

Wallace dikenal sebagai pencetus garis Wallace. Garis imajiner ini membentang dari sebelah timur Filipina, melintasi laut Sulawesi, Selat Makassar, selanjutnya antara Bali dan Lombok.  Wallace menuliskan bahwa kita mempunyai petunjuk tentang bagaimana suatu benua luas beserta flora dan fauna yang khas, lambat laun terpecah belah. Pulau Sulawesi barangkali bagian pinggiran benua paling barat.

Namun, belum ada kesesuaian sejarah geologi Sulawesi yang bisa dihubungkan dengan fauna yang ada. Wallace mengindikasikan bahwa Celebes sebagai hasil perluasan benua Asia di bagian timur pada zaman dahulu.  Kala itu, Celebes mula-mula masih berupa daratan luas, kemudian terpisah menjadi pulau-pulau seperti sekarang dan hampir bersentuhan dengan pulau-pulau yang tercerai dari benua di selatan.

Jumlah spesies hewan di Pulau Sulawesi lebih sedikit, tetapi lebih kaya dengan keunikan dan keindahan bentuk. Terdapat 73 persen spesies khas di Sulawesi.

Garis Wallace (KOMPAS)

Kekhasan dan keunikan ini tidak ditemukan di tempat lain di dunia, seperti sapi hutan anoa (Anoa depressicornis), monyet hitam, kelelawar, kelompok serangga, maleo (Macrocephalon maleo) dan kelompok burung lainnya, serta babi rusa (Babyrousa babyrussa). Ada kemiripan tanduk babi rusa dengan warthog Afrika (Phacochoerus africanus) yang gigi taringnya mencuat ke luar dan melengkung ke atas.

Arlindo

Adalah Abdul Gani Ilahude tercatat sebagai perintis oseanografi yang memperkenalkan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau “Indonesian Through Flow” (ITF). Ilahude termasuk salah satu pionir dalam riset oseanografi terapan di perairan Indonesia, dengan fokus pada penelitian Arlindo.  Cabang utama Arlindo di perairan Indonesia berada di Laut Sulawesi. Arus ini dari Samudera Pasifik hingga ke Samudera Hindia, melalui pintu masuk Laut Sulawesi ke Selat Makassar. Polanya mirip dengan garis Wallace.

Menurut Ilahude, Arlindo merupakan aliran (arus) lintas Indonesia yang secara dinamika dibentuk oleh empohan air hangat (warm water pool) di Timur Mindanao dan Timur laut Halmahera hasil angkutan massa air.

Arus Katulistiwa Utara (AKU) dan Arus Katulistiwa Selatan (AKS) yang berkumpul di tempat itu menyebabkan perbedaan tarah (permukaan yang rata) laut (sea level) 40 cm lebih tinggi dibandingkan dengan yang di selatan pantai Jawa-Sumbawa.  Hal ini yang membuat pola aliran massa air dari Samudera Pasifik yang didorong lewat Indonesia ke Samudera Hindia. Lintasan ini merupakan bagian dari Great Ocean Conveyor Belt, yaitu siklus global pergerakan lautan dunia. Karena itu, Arlindo berperan penting dalam perkembangan iklim dunia.

Hasil pengukuran yang dicatat EWIN 2014 di lokasi penelitian Laut Sulawesi menunjukkan bahwa pola sirkulasi dekat permukaan ditandai oleh eksistensi aliran arus kuat yang mengarah ke selatan yang diduga sebagai inflow arus tepi barat dari Arlindo.  Pola ini berjarak sekitar 83 km ke arah timur dari pantai terdekat, dengan lebar aliran 110 km. Arus cenderung kuat dengan bertambahnya kedalaman, seperti di perairan Derawan.

Arus ini kemudian berbelok ke arah tenggara menyusuri topografi dangkal. Percabangan arus terjadi di sebelah utara dari mulut Selat Makassar. Satu cabang masuk ke Selat Makassar sebagai Arlindo Makassar, satu cabang lagi ke arah timurlaut.  Di tepi sumbu utama aliran arus kuat, terdapat wilayah transisi dengan arus yang relatif lemah. Hasil observasi EWIN 2014 ini menjadi temuan pertama kali, sekaligus mengkonfirmasi permodelan Arlindo tentang arus batas barat (western boundary current).

Pengukuran temperatur yang dilakukan EWIN 2014 juga mengindikasikan stratifikasi massa air. Lapisan termoklin terletak di bawah tercampur (mixed layer), ditandai dengan menurunnya gradien temperatur di kedalaman 100-400 meter. Di bawah lapisan termoklin ini tercatat temperatur kurang dari 8 derajat Celcius.

Arlindo tidak hanya membawa massa air yang kaya nutrien dan oksigen. Arus lintasan ini berperan besar dalam proses distribusi larva berbagai biota di Laut Sulawesi dan Selat Makassar.  Laut Sulawesi memiliki kekhasan dan keunikan dengan adanya garis Wallace dan Arlindo. Perpaduan pola permodelan garis Wallace dan Arlindo memiliki kemiripan.

Garis Wallace sebagai pembatas dengan kekhasan spesies di darat (Sulawesi), sedangkan Arlindo sebagai satu pintu masuk sirkulasi massa air yang memiliki keanekaragaman biota laut.  Spesies di darat terisolasi dalam ruang hidup di pulau dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Di laut, dengan Arlindo sebagai jalur distribusi larva dan berbagai organisme dari Samudera Pasifik ke Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga Samudera Hindia.

Verrianto Madjowa
Kompas.com – 19/11/2017

Peran Masyarakat Limnologi Indonesia (MLI) menuju ekosistem perairan darat yang sehat

November 15, 2017

RUMUSAN PIT (Pertemuan Ilmiah Tahunan) MLI 2017

Point I

Kondisi terkini perairan Indonesia yg terekam saat ini bervariasi dari level normal hingga gangguan berat. Perairan yang dalam kondisi normal yaitu Danau Hanjalutung, Kalimantan Tengah.Perairan dalam kondisi sedang yaitu danau-danau di Kalimantan Timur yaitu Danau Jempang, Danau Melintang dan Danau Semayang. Perairan dalam kondisi berat yaitu Citarum hulu, Waduk Cirata dan Jatiluhur, Waduk Jatiluhur, Danau Maninjau dan Danau Limboto (logam berat). Kematian ikan masal di Danau Maninjau sepanjang tahun 2016 mencapai 80 milyar rupiah. Jadi aktivitas KJA di samping menurunkan kualitas air juga menimbulkan kerugian materil. Untuk mengatasi daya tampung bahan pencemar air dan terjaminnya ketersediaan air bersih, aplikasi sain dan teknologi harus dikembangkan dan diterapkan untuk pengelolaannya.

Poin II

Kondisi biota perairan ditinjau dari keragaman makrofita menunjukan adanya spesies intensif di Danau Sentarum, penutupan vegetasi riparian di Rawa Pening 50-70%. Berdasarkan kelimpahan jenis ikan yang masih cukup baik antara lain di Hulu Citanduy dan Citarum, Hanjalutung, Sungai Pegunungan Meratus, dan Sungai Barito. Keragaman biota terutama komunitas ikan terdapat satu ancaman dari keberadaan ikan asing yaitu di Danau Matano dari ikan lohan mengingat danau tsb memiliki keragaman ikan dengan endemisitas tinggi. Pemantauan keragaman ikan yg cukup baik di Hulu Citanduy dan sungai-sungai di Solok Selatan.

Poin III

Biota perairan darat yang menjadi objek penelitian bervariasi mulai dari ikan komersil seperti nila, patin, lele dan ikan mas; serta biota asli Indonesia seperti udang regang dan ikan Oryzias (yang juga endemik D. Towuti). Kegiatan-kegiatan penelitian yang dipresentasikan pada topik rekayasa biota dan habitat perairan darat antara lain mengenai optimasi kondisi lingkungan dan biologis untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan biota yang optimal, serta dampak aktivitas budidaya dan teknologi untuk mengatasi pencemaran.

Point IV

Kemajuan penelitian yang terekam saat ini meliputi:

Pemanfaatan citra satelit sebagai metode baru dalam penentuan klorofil, karakterisasi lahan basah di DAS, lengas tanah, estimasi runoff, sebaran banjir, dan variabilitas iklim. Pengembangan kajian paleolimnologi untuk rekonstruksi kondisi lingkungan masa lampau; Kajian limnologi fisik, yaitu dampak angin terhadap struktur termal di Danau Maninjau.

Perencanaan model konservasi, baik untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang, diperlukan berbagai model hidrologi, model iklim, modek kependudukan (kebutuhan air), dengan input data-data yang memiliki presisi tinggi,.

Pembangunan embung meruapakan salah satu konservasi sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan air baik domestic maupun pertanian serta utk mengkonservasi flora fauna yang ada di dalamnya.

Perlunya integrasi antar institusi dan stake holder untuk menunjang model pengelolaan lingkungan sehingga dapat untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul akibat tingginya dinamika perubahan lingkungan perairan darat

Peran MLI dalam kerangka pembangunan yaitu memberikan masukan terkait kerangka regulasi kelembagaan dan prioritas nasional skala desa, kecamatan, kabupaten maupun nasional. Bersifat langsung diterapkan maupun strategi konseptual jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

 

Sumber: Tim Panitia MLI 2017


Southeast Asian Limnological Network

May 28, 2017

From the “World Lake Conference” (WLC), November 2016 in Bali, one of the results of this event was SEAL-Net as an initiative from Southeast Asian countries who concern to their inland waters.

The establishment of Southeast Asian Limnological Network was based on the fact that there is a a need to promote tropical limnology research and studies to such an extent. Recognition of tropical limnology studies should be as much important as that of subtropical and temperate ones. `

Please check this link SEAL-Net