KOLABORASI ANTAR PUSAT PENELITIAN LIMNOLOGI – LIPI, UNIVERSITI SAINS MALAYSIA (USM) DAN SEALNET DALAM KONFERENSI INTERNASONAL TENTANG EKOLOGI DAN BIODIVERSITAS PADA BULAN AGUSTUS 2018

April 13, 2018

Sebagai salah satu hasil dari pertemuan World Lake Conference (WLC) di Bali bulan November 2016, telah disepakati membangun jaringan kerja sama antar peneliti di kawasan ASEAN, khususnya bidang limnologi melalui SealNet (Southeast Asian Limnological Network).  Tujuannya untuk mendorong kajian bersama, khususnya perairan darat tropis yang kaya keanekaragaman dan keunikannya, berbeda dengan wilayah sub-tropis.  Puslit Limnologi sebagai salah satu panitia WLC 2016, diminta menjadi sekretariat SealNet dalam menjalankan kegiatan organisasi tersebut

Salah satu kegiatan yang akan diselenggarakan adalah Konferensi Internasional tentang ekologi dan biodiversitas di Penag, Malaysia.  Pihak USM sebagai panitia dan Puslit Limnologi LIPI sebagai co-organizer dengan dibantu anggota SealNet lainnya.  Selain konferensi dan pelatihan, juga akan ada pertemuan SealNet pertama untuk membahas program-program ke depan yang berpotensi bisa dilaksanakan.  Harapannya, dengan pertemuan ini, dapat dilakukan komunikasi dan berbagi pengalaman antar negara-negara ASEAN dalam pengelolaan perairan darat.

Selain itu, makalah terpilih dan disajikan dalam konferensi akan diterbitkan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Sciences, yang diindeks Scopus, serta EI Compendex dan Inspec.

Untuk keterangan lebih lengkapnya tentang kegiatan ini, bisa dilihat dalam https://usmicebats2018.wixsite.com/icebats2018 atau brosur di bawah ini.

 

COLLABORATION AMONG RESEARCH CENTRE FOR LIMNOLOGY – LIPI, UNIVERSITI SAINS MALAYSIA (USM) AND SEALNET IN THE FRAMEWORK OF INTERNATIONAL CONFERENCE ON ECOLOGY AND BIODIVERSITY IN AUGUST 2018

As one of the outcomes of the World Lake Conference (WLC) – Bali in November 2016, it was agreed to build a network of collaborators among researchers in the ASEAN region, particularly in the limnology field through SealNet (Southeast Asian Limnological Network).  The goal is to encourage joint study, particularly the tropical inland waters which rich in biodiversity and uniqueness, different character to the sub-tropical regions.  Research Centre for Limnology – LIPI as one of the WLC Bali 2016 committees, was asked to be the secretariat of SealNet in organizing the Sealnet’s activities.

One of the activities to be held this year is the International Conference on ecology and biodiversity in Penang, Malaysia.  USM as a committee and Research Centre for Limnology – LIPI as a co-organizer with the support of other members of SealNet.  In addition, besides the programs in this conference (seminar, discussion and and training), there will also be the first SealNet meetings to leverage future programs that could potentially be implemented.  The objective of this meeting, communication and sharing experiences among ASEAN countries in the management of inland waters could be conducted.

In addition, Selected papers and presented in coference will be published in IOP Conference Series: Earth and Environmental Sciences, a publication that is indexed in Scopus, as well as EI Compendex and Inspec.

For more details about this event, please look in https://usmicebats2018.wixsite.com/icebats2018 or the brochure below.

-LS-

Advertisements

LIPI – KOREA Collaboration Introduces Innovation on Rainfall Observation Using Dual Polarization Technology

April 3, 2018

Indonesia and Korea encounter similar problems when it comes to dealing with the risk of climate change which also implements in the change of rain pattern. The consequences of heavy rainfall can be the occurrence of erosion, landslides (mainly at slopes and hills) and flood. Conventional method by using rain gauge has disadvantages chiefly when measuring spatial distribution of the rainfall is accurately needed. In addition, conventional rain gauge has limited capability to observe the rainfall due its small size. Spatial distribution of rainfall is important to provide a more accurate forecast of the risk of flood and erosion.

A Korean team consisting of multi institutions (KICT (Korea Institute of Civil Engineering and Building Technology), JCOMS Co. Ltd., SELAB, Kyungpook National University and Chonnam National University) visits Indonesia to have bi-national seminar (Korea and Indonesia) and to test out the performance of EWRG (Electromagnetic Wave Rain Gauge). This device is used for rainfall observation using dual polarization technology. The seminar was carried out at Research Center for Limnology LIPI in the last week of March 2018. The representatives from Korea (Dr. Sanghoon Lim, Dr. Jungho Choi, Prof. Gyuwon Lee, Dr. Chanjoo Lee, Hoon Choi, M.Ed), Dr. Iwan Ridwansyah (RC Limnology LIPI) and Dr. Indra Gustari (BMKG) presented the research development on rainfall observations in Korea and Indonesia, respectively.

For nearly two weeks (the end of March until the beginning of April), the Korean team has been doing performance tests of EWRG at Bukit Paralayang (Paragliding site), Cisarua. This field activity is supported by Research Center for Limnology LIPI which delegates two representatives Dr. Luki Subehi and Miratul Maghfiroh, M.Sc. as field coordinators.

Director of Research Center for Limnology, Dr. Fauzan Ali, cordially welcomes the Korean team and hopes that this activity will lead to a joint research that benefits between two countries. In regard to this, Dr. Won Kim (project Director from KICT) appreciates all individuals and LIPI for its support during the activities. This collaboration is supposed to be carried on in the coming years.

 


International Conference: Ecology and Biodiversity across Time and Space

March 7, 2018

ICEBATS 2018

VENUE: HOTEL JEN

15 TO 17 AUGUST 2018

Importance of ecological and socioeconomic  roles of aquatic ecosystems.

ICEBATS 2018 is the result of cooperation between SEAL NET, Universiti Sains Malaysia and LIPI forged to address critical issues faced by our societies in the wake of globalization. Major developments have been observed throughout Asia and the South East Asian regions  often at the expense of ecosystems that are already fragile and exposed to frequent large scale human activities. This conference is a platform for researchers, scientists, managers, policymakers and local communities that are determined to find sustainable solutions to preserve natural resources and biodiversity of this unique region.

Please check ICEBATS 2018


2nd TDP post-drilling workshop

February 17, 2018

January 22-24, 2018 Makassar, Indonesia

Source Picture: Team TDP 2018

The Workshop goals are to:

– Update the team on analytical progress, emerging interpretations, and challenges

– Summarize results and key findings

– Synthesize datasets and identify synergies between the different working groups

– Develop a concrete publication strategy and timeline

 

Workshop Venue

The workshop will be held at Aston Hotel, a 4-star business hotel near the port of Makassar. You have all been booked into prepaid rooms for the duration of your stay; however, you will need to settle any room charges upon checkout. Hotel Aston is located near Losari Beach, a great area for walking and for local restaurants.


Super Blue Blood Moon yang tak biru ataupun berdarah

February 1, 2018

Jagat raya sudah heboh dengan fenomena alam pada Rabu (31/1), pukul 18.48 WIB sampai dengan pukul 22.11 WIB, akan terlihat di sebagian besar negara-negara di Planet Biru di Galaksi Bima Sakti ini, termasuk di seluruh wilayah Indonesia.

Fenomena alam tersebut adalah fenomena gerhana bulan yang terjadi bersamaan pada saat bulan yang merupakan satelit alami bumi berada di titik terdekat dengan bumi yang dikenal dengan istilah supermoon. Dan kebetulan lainnya adalah purnama pada rabu adalah hari adalah yang kedua terjadi di bulan Januari 2018.

Ya, bulan purnama sudah terjadi pada 1 Januari 2018 dan kembali akan terjadi pada 31 Januari 2018. Dengan alasan itu maka dikenal dengan istilah blue moon atau bulan biru.  Jadi Rabu malam, kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, bulan akan tampak lebih besar dari purnama biasanya karena berada pada titik terdekat dengan bumi dan pada saat bersamaan akan terlihat merah seperti darah karena terjadi gerhana bulan.

Pada saat gerhana bulan terjadi, ia menjelaskan bahwa satelit bumi selalu menampakkan warna merah seperti darah karena itu disebut blood moon.   “Publik menganggap fenomena ini berbeda, tapi secara astronomis gerhana bulan pada saat bulan di titik terdekat dengan bumi ini fenomena biasa. Ini menjadi luar biasa karena media massa menamakannya `super blue blood moon` karena bulan purnama yang kedua ini akan tampak lebih besar dan berwarna merah,” ujar Thomas.

Fase gerhana bulan

Kepala Lapan mengatakan gerhana bulan akan mulai terjadi pada pukul 18.48 WIB di mulai dari sisi bawah atau sisi timur purnama yang tergelapi. Kemudian totalitas akan terjadi pada pukul 19.52 WIB.  Pada saat itu, lanjutnya, bulan tidak akan gelap total karena masih ada cahaya matahari yang dipantulkan atau dibiaskan oleh atmosfer bumi. Warna merah matahari akan diteruskan, membuat warna bulan menjadi merah seperti daerah.  Totalitas gerhana bulan akan terjadi sampai pukul 21.08 WIB.
“Jadi totalitasnya terjadi sekitar satu jam,” ujar dia.

Fase gerhana bulan sebagian akan terjadi lagi, di mulai dari sisi kanan bawah dan purnama mulai kembali tersibak. Fase tersebut akan selesai pukul 22.11 WIB.   Fase gerhana ini aman untuk dilihat dengan mata telanjang sama seperti saat melihat bulan purnama, sehingga tidak perlu menggunakan alat khusus. Dengan binokuler atau teleskop tentu akan bisa melihat gerhana secara lebih detil, bagian kawah-kawah di bulan dan pergeseran gelap di purnama tersebut.

Dampak gerhana bulan

Bulan mempunyai dampak terhadap pasang surut air laut. Pada saat purnama, bulan berada hampir sejajar dengan matahari, sehingga efek air pasang bulan diperkuat oleh gravitasi matahari.
“Ditambah dengan kondisi `supermoon` di mana jarak bulan sangat dekat tentu akan menambah efek pasang. Pada saat gerhana, posisi matahari, bumi dan bulan benar-benar pada posisi segaris dan efeknya semakin tinggi pasang-surutnya,? lanjutnya.

Jadi, Thomas mengatakan masyarakat di daerah pesisir yang perlu waspada, terutama mereka yang berada di pantai yang landai karena berpotensi terkena banjir pasang. Dalam kondisi yang biasa memang akan terjadi genangan air saja, tapi jika dikombinasikan dengan cuaca buruk di laut tentu air limpasannya akan lebih tinggi.
Dan jika pada saat bersamaan di darat terjadi hujan maka banjir, menurut dia, akan semakin lama untuk surut.

Pernyataan ini sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang meminta masyarakat waspada terhadap tinggi pasang maksimum dapat mencapai 100 hingga 140 centimeter (cm), dan surut minimum dapat mencapai minus 100 sampai 110 cm.
Thomas mengatakan kondisi pasang-surut tersebut terjadi dua hari sebelum dan dua hari setelah gerhana atau purnama terjadi.

Jika dikaitkan dengan gempa bumi, Thomas menjelaskan hingga saat ini tidak ada teknologi maupun orang yang mampu meramalkan kapan dan di lokasi mana akan terjadi. Namun gerhana atau bulan baru atau purnama bisa berpotensi menjadi pemicu terjadinya gempa.

Aktivitas lempeng Indo-australia dari selatan Jawa atau dari barat Sumatera yang menyusup ke lempeng Eurasia bisa tertahan pada saat purnama atau bulan baru atau saat gerhana. Dengan demikian terdapat energi yang tersimpan di sana yang tidak dapat diketahui kapan akan terlepas, lanjutnya.

Tidak dapat diperhitungkan seberapa persen dampak gerhana atau purnama bisa memicu gempa bumi mengingat penelitian belum konklusif. Jika pun menjadi pemicu tentu pelepasan energi pada pergerakan lempeng yang memicu gempa akan terjadi di lokasi yang belum terjadi gempa, bukan lokasi yang baru terjadi gempa.

Bukti bumi bulat

Lebih lanjut, terkait dengan “fenomena” bumi datar, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika ini mengatakan gerhana bulan menjadi momen tepat membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat.
Saat gerhana bulan pada Rabu dan purnama tergelapi dengan sempurna maka yang menggelapinya merupakan bayangan bumi dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Sehingga, menurut dia, gagasan para penggemat bumi datar yang menyebutkan ada obyek yang tidak diketahui yang menutupi bulan itu benar-benar tidak logis.  Untuk membuktikan lagi bahwa bumi itu bulat, maka Thomas mengajak para penggemar gagasan bumi datar untuk membuktikan bahwa fase gerhana benar mulai terjadi pada pukul 18.48 WIB dan totalitas pada pukul 19.52 WIB.
Jika waktu tersebut tepat maka, menurut dia, sistem bulan, bumi dan matahari itu betul dan sudah bisa dihitung. Ini menjadi bukti bumi itu bulat.

Pewarta: Virna Puspa S
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018


Malaysia Ecohydrology Forum 2017

January 1, 2018

December 4, 2017 at Putrajaya Corpoation, Malaysian Ecohydrology Forum has been launched.  Some participants give their lecture in this event.

  • Briefing and Introduction by Hj Akashah (EDFSB)
  • World Lake Management Status – ILEC
  • Transforming the Water Sector in Malaysia – Academy of Sciences Malaysia (ASM)
  • Ecohydrology Management in Agriculture Sector –MADA
  • National Water Balance (NAWAB) Initiative in Malaysia –DID
  • National Lake Research and Blueprint in Malaysia/Translating Water Research into Policy – NAHRIM
  • Capacity Building for IWRM/Ecohydrology in Malaysia – LESTARI
  • Marking the setting up of Lake Management Platform – Malaysian Ecohydrology Chapter – by ALL (PPJ, UKM, NAHRIM, MADA, DID, ASM, ILEC, SealNet)
  • Special speech from Prof. Mashhor as chairman of SealNet

The video of SealNet also was shown at the meeting and promoting the next first meeting of Sealnet at Penang – Malaysia in 2018.


NRF Program – Professor of Chonnam National University visited in Research Centre for Limnology

December 13, 2017

Prof Kim JinKwan from Chonnam National University has visited Research Centre for Limnology for Oct 19 – 31, 2017 as NRF program.  Some discussion as below:

Reservoir sediment sources

Maintaining sustainable reservoirs is a serious global problem and requires that the source, composition, and behavior of reservoir sediment be understood in detail. Few studies on seasonal variation in pond sediment sources have been conducted.

Some discussions:
How to handle sedimentation
With flushing / flushing, but this is not suitable because the Saguling Reservoir is part of 3 interconnecting dams. Flushing will only create a problem for the next reservoir (Cirata and Jatiluhur)

With the “finger print” method, we can trace the source of the sedimentation cause (slope or channel). Furthermore, we can focus on rehabilitating the resource area / region

Another way with “reconstruction of sediment rate”,
With this modeling, we can reconstruct the sedimentation velocity from initial conditions to predicted forward by considering landuse changes etc.  Other option is sedimentation dredging technology

Check dam or storage dam to cope with sedimentation
In the discussion came the idea to make a storage dam (before entering the reservoir) to accommodate sedimentation so as not to enter the reservoir. Later, the dredging is routinely carried out at the storage dam.

Rainfall Simulator :
To propose suitable operating conditions for soil erosion and/or landslide experiments.To contribute to better understand and more clarify the results of the previous and future studies of erosion and/or landslide experiments using rainfall simulators

Some pictures: Prof. Kim activities

-LS-