Indonesia-Korea Siap Kerja Sama untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

August 1, 2015

Indonesia dan Korea menandatangani kerja sama pengelolaan sumber daya air yang terpadu. Hal ini didasarkan pada kesuksesan negara Korea dalam menggunakan teknologi informasi dalam melaksanakan sumber daya air terpadu di negaranya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan Korea Water Resources Corporation (K-Water), salah satu perusahan Badan Umum Milik Negara Korea Selatan bergerak pada pengembangan sumber daya air. Penandatanganan kerjasama Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu dan Control System tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Mudjiadi, dengan Director General of Overseas Business Development of K-Water, Kim Soo Myung, dan disaksikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat, Basuki Hadimoeljono, dan CEO of K-Water Resources Corporation, Choi Gyewoon, (8/7) di Kementerian PUPR.

Berdasarkan MoU tersebut, fokus kerjasama antara Kementerian PUPR dan K-Water terdiri dari beberapa bidang, yaitu fasilitas infrastruktur sumber daya air termasuk bendungan, pembangkit listrik tenaga air, pengendalian banjir, irigasi; keamanan air termasuk pasokan air dan kualitas air; teknik sumber daya air, pedoman, manual dan metode konstruksi; fasilitas informasi sumber daya air dan sistem operasi; konservasi air termasuk iklim air dan ekosistem; serta tata air dan pembangunan kapasitas.

Dalam sambutannya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan keinginannya untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya air agar lebih maju. Diakuinya, Korea Selatan dalam hal pengelolaan sumberdaya air yang lebih maju dari Indonesia. Dirinya mengatakan, “kami sangat berharap di masa mendatang pengelolaan sumber daya air di Indonesia dapat sama atau bahkan melebihi Korea Selatan, yang saat ini akan menjadi mentor bagi Indonesia”, jelasnya sambil menunjuk kepada CEO K-Water Corporation, Choi Gyewoon, yang juga merupakan teman kelasnya selama menimba ilmu di Colorado State University.

Menteri Basuki juga menjelaskan tujuan kerjasama pihak Korea Selatan untuk menggarap sistem pengelolaan sumber daya air di Indonesia. “Saya sangat membutuhkan bantuan Anda (pihak Korea) untuk mengembangkan sektor sumber daya air ini dalam proyek nyata,” jelasnya lugas.

Salah satu hasil kerja (output) dari kerja sama kedua negara ini adalah Control Operation Room, yang nantinya akan dapat diimplementasikan pada akhir tahun 2016. Tindak lanjut dari penandatanganan tersebut diharapkan kedua belah pihak akan langsung bekerja sama sebaik, secepat, secermat dan secerdas mungkin melalui sistem kerja smart-work technology.

“Saya percaya bahwa kita mendapatkan beberapa manfaat dari kerjasama yang sangat baik ini dan saya yakin kami masih bisa meningkatkan kerjasama kita di masa depan untuk membawa kesejahteraan yang lebih baik untuk rakyat,” jelas Menteri PUPR.

 Written by  Thursday, 09 July 2015

(nan/dewDatinSDA) – Published inData dan Informasi SDA

 


Sejumlah desa di Pekalongan mulai krisis air bersih

July 22, 2015
Sejumlah desa di Pekalongan mulai krisis air bersih

Ilustrasi: Warga mengantre mendapatkan air bersih. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Pekalongan (ANTARA News) – Sejumlah desa Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kini mulai mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.   Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan Bambang Sujadmiko di Pekalongan, Selasa, mengatakan bahwa debit air pada sejumlah sumber mata air sudah menurun karena kemarau panjang.   “Oleh karena itu, kami mengimbau pada warga agar hemat dalam penggunaan air bersih karena debit air pada suber mata air mulai turun,” katanya.

Sejumlah desa yang kini sudah krisis air bersih itu, kata dia, antara lain Desa Klunjukan dan Purworejo, Kecamatan Sragi, Kesesi, Kedungwuni Timur dan Kedungwuni Barat.  “Kendati sejumlah desa telah mengalami penurunan debit air, kami belum perlu memasok air bersih karena kebutuhan masyarakat terhadap air bersih masih dapat terpenuhi,” katanya.  Ia mengatakan bahwa pemkab siap melakukan droping air bersih kapan pun pada masyarakat jika sudah mulai dibutuhkan.

Berdasar pantauan BPBD, kata dia, debit air sungai kini sudah mulai turun sekitar 75 persen sehingga kondisi tersebut memprihatinkan karena musim kemarau yang akan terjadi pada 2015 akan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. “Saat ini, kondisi lahan sawah mulai kekeringan sehingga hal ini mengancam gagal panen padi,” katanya.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Selasa, 14 Juli 2015 

Discussion with LAPAN

May 24, 2015

Discussion for potential collaboration between Research Centre and Development for Remote Sensing Application – Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN) and Research Centre for Limnology – Indonesian Institute of Sciences (LIPI) on April 29, 2015.

The discussion : how to use and apply the data from both sides for monitoring on water quality of lake in Indonesia.

1430300501568

 

 

 


Discussion at Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

April 26, 2015

Discussion has been conducted at Institute Teknologi Sepuluh Nopember on April 23, 2015.  The discussion to find the collaboration potential between Research Center for Limnology – LIPI and Geomatics Engineering – ITS.
The main topics in discussion: Coastal management and Inland Water monitoring.

foto2foto1


Peringatan Hari Air Sedunia Tahun 2015

March 30, 2015

Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2015 kali ini dimanfaatkan Balai Wilayah Sungai Papua Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama puluhan siswaÂÂ SD Inpres Megapura Skyline dengan melakukan aksi tanam sekitar 150 bibit pohon di sejumlah lokasi di skyline pada tanggal 24 Maret 2015. Dalam kegiatan tersebut hadir juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Papua, Ir. Mikael Kambuaya, Asisten III Setda Kota Jayapura, Frans Pekey, dan Direktur PDAM Jayapura Abdul Muthalib Petonengan.

Dalam kesempatan wawancara, Asisten III Kota Jayapura Frans Pekey mengatakan saat ini kondisi debit air Kota Jayapura mulai mengalami kekurangan, lantaran beberapa titik yang menjadi lokasi penyimpanan air mulai mengalami kerusakan akibat ulah warga, misalnya di wilayah konservasi Cycloop yang mana oknum warga tertentu melakukan penebangan hutan, membakar hutan untuk kepentingan kebun dan sebagainya. Menyikapi hal itu, dirinya mendorong perlu ada sebuah gerakan bersama untuk penyelamatan, hutan sebagai sumber air, tidak hanya oleh pemerintah daerah, namun perlu keterlibatan masyarakat adat, swasta, untuk menjaga dan mengawasi wilayah hutan di Papua, khususnya di Kota Jayapura. “Lebih baik kita mencegah saat ini, daripada kita akan mengalami persoalan di waktu yang akan dating, terutama kekeringan air,” harapnya.

Sementara itu, Kadis PU Provinsi Papua, Ir. Mikael Kambuaya menambahkan jika pentingnya peringatan air sedunia, sebagai peringatan bagi masyarakat di Papua, sebab ke depan kebutuhan air semakin meningkat dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia, sementara kondisi debit air tetap tidak bertambah. “Melalui peringatan ini, saya mengajak kita semua agar sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan hutan, sebagai sumber air, kita jangan merusak hutan “ tukasnya.  Sementara itu, Kepala BWS Papua Ir. Happy Mulya, ME, menambahkan, gerakan penyelamatan air setiap tahun dilakukan, bukan saja di Papua, namun juga sedunia, kampanye soal penyelamatan air ini, dilakukan agar adagerakan penyadaran bagi masyarakat untuk menjaga air, kegiatan yang dilakukan misalnyakampanye soal pentingnya penyelamatan air kepada masyarakat , sosialisasi kepada anak SD serta aksi penanaman bibit pohon.  “Saya memilih SD ini, agar anak-anak SD ini diberikan kesadaran sejak dini, terkait pentingnya menjaga keselamatan air sehingga mereka sudah paham dan mulai menerapkan di lingkungan tempat tinggalnya, misalnya jangan merusak atau menebang pohon sembarangan’” pungkasnya.

Hari Air Sedunia merupakan perayaan yang ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik tentang pentingnya air bersih dan usaha untuk menyadarkan pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Peringatan ini di umumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio De Janiero, Brasil.

Source: website Ditjen SDA, Kementerian PU


Inilah Tantangan dalam Pengelolaan Air Minum di Jakarta

January 14, 2015

Selasa, 13 Januari 2015 | 20:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pesatnya pembangunan ekonomi di Jakarta yang tidak dibarengi oleh pembangunan sosial telah menimbulkan persoalan baru. Salah satunya adalah persoalan tata kelola air minum di Jakarta. Sebanyak 13 sungai dan puluhan waduk di Jakarta tidak bisa digunakan sebagai air baku dalam proses pengolahan air minum. Akibatnya, air bersih yang mengalir ke rumah-rumah pelanggan Palyja, air bakunya lebih dari 60 persen didapat dari Waduk Jatiluhur, sedangkan lebih dari 30 persen dibeli dari Tangerang berupa air curah. Hanya kurang lebih empat persen air berasal dari sungai di Jakarta yang digunakan dalam proses pengolahan air di Instalasi Palyja, yaitu Sungai Krukut di IPA Cilandak dan Sungai Cengkareng Drain di IPA Taman Kota.

Akibat ketergantungan Jakarta terhadap sumber air dari luar daerah, kota ini defisit ketersediaan air bersih, ujar Presiden Direktur Palyja Jacques Manem pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2015) lalu. Menurut data yang dilansir PAM Jaya dan Operator, pada 2015 kebutuhan air bersih di Jakarta sebesar 26,1 m3/detik. Sementara itu, ketersediaan air bersih hanya 17 m3/detik. Artinya ada defisit 9,1 m3/detik. Bila kondisinya tidak berubah, pada 2023, defisit air bersih akan meningkat hingga 13,1 m3/detik.

Syarat air baku dalam proses pengolahan air minum mencakup kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Ketiga syarat tersebut hingga saat ini belum bisa dipenuhi oleh sumber-sumber air di Jakarta. Tak hanya itu, selama permasalahan sosial di Jakarta minim penyelesaian, maka permasalahan tentang kualitas, kuantitas dan kontinuitas sungai dan waduk di Jakarta untuk digunakan sebagai air baku dalam proses pengolahan air minum hanyalah mimpi belaka.


6 Masalah yang Hantui Sungai Citarum

December 27, 2014

Sabtu, 27 Desember 2014 | 09:18 WIB

KOMPAS/Rony Ariyanto Nugroho. Sejumlah warga melintasi Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terendam banjir, Jumat (19/4/2013).

BANDUNG, KOMPAS.com – Sungai Citarum tak pernah lepas dari perbincangan. Kini, namanya kembali mencuat setelah dituduh sebagai penyebab banjir besar di Bandung selatan yang telah merendam daerah tersebut sejak Kamis, 18 desember 2014. Sedikitnya 36 ribu rumah terendam dengan ketinggian 30 cm-3 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Adang Saf Ahmad CES, mengatakan bahwa persoalan di Citarum sangat kompleks. Selama menjabat sebagai kepala BBWS, setidaknya ia mengantongi enam persoalan yang harus segera ditangani semua pihak.

“Persoalan pertama, sedimentasi yang tinggi di dasar sungai Citarum,” ujar Adang di Bandung beberapa waktu lalu.
Persoalan kedua, gundulnya hutan di seputar hulu Sungai Citarum, terutama di Kecamatan Kertasari dan Pacet Kabupaten Bandung. Kondisi ini menyebabkan erosi yang sangat tinggi. Pasalnya, setiap hujan turun, butir-butir tanah langsung terbawa mengalir lalu mengendap di wilayah hilir.
“Menurut catatan kami, lumpur yang mengendap di dasar Sungai Citarum mencapai 500 ribu meter kubik per tahun. Ya bagaimana tidak, lahan seluas 26 ribu hektare di wilayah hulu, yakni di Gunung Wayang sudah sangat kritis. Jelas kondisi itu sangat berdampak terhadap kondisi sungai akibat sedimentasi yang luar biasa terjadi dengan cepat,” ungkapnya seperti dikutip majalah internal BBWS.

Ketiga, terjadi penurunan muka air tanah yang rata-rata mencapai 8,3 cm per tahun. Selain berkurangnya daerah tangkapan air karena penggundulan hutan untuk pertanian di wilayah hulu, penggunaan air tanah yang melebihi batas juga menjadi penyebab utama.

Keempat, sampah. Menurut data yang dimilikinya, sampah yang dibuang ke Sungai Citarum mencapai 9.000 meter kubik. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Masyarakat masih beranggapan, sungai adalah tong sampah.

kelima, perilaku pengusaha industri yang membuang limbah cairnya ke sungai tanpa diproses melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Itu bisa dilihat saat musim kemarau. Air yang seharusnya bening berubah menjadi beraneka warna dengan bau bahan kimia yang menyengat. Terkadang berwarna hitam pekat, merah, atau lainnya.
“Limbah industri dan sampah yang masuk ke Sungai Citarum, membuatnya masuk pada kategori sungai paling tercemar di dunia,” terangnya.

Masalah terakhir adalah defisit ketersediaan air minum untuk wilayah Bandung raya. Penyebabnya kemampuan hutan untuk menyerap air hujan menurun drastis karena penggundulan.
Selain itu, alih fungsi lahan ke permukiman yang tinggi membuat permukaan tanah tertutup tembok-tembok bangunan sehingga air tak bisa meresap dan mengalir begitu saja. Kondisi ini diperparah dengan penggunaan air tanah yang tidak terkendali.
“Apalagi Bandung ini merupakan daerah terpadat keempat di Indonesia. Maka kebutuhan air minum menjadi sangat tinggi. Diperkirakan pada 2030 nanti, defisitnya sekitar 11,6 meter kubik per detik,” tutupnya.


Penulis : Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor : Hindra Liauw

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.