Laut Sulawesi, Perpaduan Garis Wallace dan Arlindo

November 19, 2017

BILA kita menyimak peta Kepulauan Nusantara ketika naturalis berkebangsaan Inggris Alfred Russel Wallace melakukan perjalanan pada abad 19, tak ada nama Laut Sulawesi.  Di peta, Laut Sulawesi masih bernama Soeloe ZEE. Antara Borneo (Kalimantan) dan Filipina tertulis Mindoro ZEE. Peta Kepulauan Nusantara tersebut bersumber dari Natuurkundige Kaart van Insulinde, Wallace en Allen.

Di masa itu, nama Sulawesi dan Laut Sulawesi belum dikenal. Sebutan Sulawesi adalah Celebes seperti ketika Wallace menjejakkan kaki di Makassar pada September–November 1856 dan Juli–November 1857. Begitu pula ketika Wallace tiba di Manado pada Juni–September 1859.  Nama Celebes digunakan pertama kali oleh sejarawan Portugis Tome Pires dalam buku Suma Oriental. Buku ini ditulis di India dan Maluku antara tahun 1512-1515. Orang Portugis berlayar ke kepulauan Maluku–penghasil rempah-rempah–melalui Singapura, Tanjung Putting, dan Buton. Kadang-kadang melalui Makassar, Celebes, Banggai dan Siau.

Peta Celebes pertama bangsa Portugis dilukis sesudah pelayaran Antonio de Paiva, pada 1544. Antonio de Paiva pernah tinggal selama setahun di Makassar (1542-1543), lalu melukis pulau Celebes.  Peta ini seperti dalam sejarah geologi Sulawesi sebelum peristiwa tabrakan dengan Sulawesi Timur. Hanya memanjang dengan beberapa teluk di semenanjung Sulawesi Selatan.  Di ujung utara Sulawesi, seperti disebutkan Christian Pelras (2006), Ponta de Celebes (Tanjung Celebes), Celebes Regiam (daerah Celebes), di sebelah barat terbaca Tetoly (Toli-toli), juga tertulis AeQUINOCT (Katulistiwa).

Laut Sulawesi

Kini Soeloe ZEE seperti dalam peta Wallace menjadi Laut Sulawesi dan Mindoro ZEE berganti nama menjadi Laut Sulu. Negara yang secara langsung masuk dalam perwilayahan di Laut Sulawesi, yakni Indonesia, Filipina dan Malaysia.  Di Indonesia, Laut Sulawesi membentang dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Laut Sulawesi masuk dalam Kawasan Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle). Kawasan ini mencakup enam negara di dunia, masing-masing Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.

Laut Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi tulang punggung bagi kehidupan masyarakat pesisir yang bertumpu pada mata pencaharian dari laut. Mereka ini menangkap ikan karang, demersal dan pelagis, serta kegiatan budidaya.

Di Laut Sulawesi, berdasarkan hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2014 yang telah dilakukan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), ada beberapa temuan baru.  Temuan ini mengonfirmasi hasil penelitian sebelumnya. Seperti spesies fitoplankton Asteromphalus hyalinus yang biasanya hanya hidup di perairan dingin, di laut beriklim sub-tropika dan Arktik, telah ditemukan di Laut Sulawesi.  Kemudian fitoplankton spesies Bellerochea horologicales yang berkembang di perairan Florida (Gulf of Mexico) dan Meville (Australia). Belum ada laporan spesies ini hidup di perairan tropis. Fitoplankton ornithocercus diduga jenis baru karena belum ditemukan dalam literatur.

Garis Wallace

Wallace dikenal sebagai pencetus garis Wallace. Garis imajiner ini membentang dari sebelah timur Filipina, melintasi laut Sulawesi, Selat Makassar, selanjutnya antara Bali dan Lombok.  Wallace menuliskan bahwa kita mempunyai petunjuk tentang bagaimana suatu benua luas beserta flora dan fauna yang khas, lambat laun terpecah belah. Pulau Sulawesi barangkali bagian pinggiran benua paling barat.

Namun, belum ada kesesuaian sejarah geologi Sulawesi yang bisa dihubungkan dengan fauna yang ada. Wallace mengindikasikan bahwa Celebes sebagai hasil perluasan benua Asia di bagian timur pada zaman dahulu.  Kala itu, Celebes mula-mula masih berupa daratan luas, kemudian terpisah menjadi pulau-pulau seperti sekarang dan hampir bersentuhan dengan pulau-pulau yang tercerai dari benua di selatan.

Jumlah spesies hewan di Pulau Sulawesi lebih sedikit, tetapi lebih kaya dengan keunikan dan keindahan bentuk. Terdapat 73 persen spesies khas di Sulawesi.

Garis Wallace (KOMPAS)

Kekhasan dan keunikan ini tidak ditemukan di tempat lain di dunia, seperti sapi hutan anoa (Anoa depressicornis), monyet hitam, kelelawar, kelompok serangga, maleo (Macrocephalon maleo) dan kelompok burung lainnya, serta babi rusa (Babyrousa babyrussa). Ada kemiripan tanduk babi rusa dengan warthog Afrika (Phacochoerus africanus) yang gigi taringnya mencuat ke luar dan melengkung ke atas.

Arlindo

Adalah Abdul Gani Ilahude tercatat sebagai perintis oseanografi yang memperkenalkan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau “Indonesian Through Flow” (ITF). Ilahude termasuk salah satu pionir dalam riset oseanografi terapan di perairan Indonesia, dengan fokus pada penelitian Arlindo.  Cabang utama Arlindo di perairan Indonesia berada di Laut Sulawesi. Arus ini dari Samudera Pasifik hingga ke Samudera Hindia, melalui pintu masuk Laut Sulawesi ke Selat Makassar. Polanya mirip dengan garis Wallace.

Menurut Ilahude, Arlindo merupakan aliran (arus) lintas Indonesia yang secara dinamika dibentuk oleh empohan air hangat (warm water pool) di Timur Mindanao dan Timur laut Halmahera hasil angkutan massa air.

Arus Katulistiwa Utara (AKU) dan Arus Katulistiwa Selatan (AKS) yang berkumpul di tempat itu menyebabkan perbedaan tarah (permukaan yang rata) laut (sea level) 40 cm lebih tinggi dibandingkan dengan yang di selatan pantai Jawa-Sumbawa.  Hal ini yang membuat pola aliran massa air dari Samudera Pasifik yang didorong lewat Indonesia ke Samudera Hindia. Lintasan ini merupakan bagian dari Great Ocean Conveyor Belt, yaitu siklus global pergerakan lautan dunia. Karena itu, Arlindo berperan penting dalam perkembangan iklim dunia.

Hasil pengukuran yang dicatat EWIN 2014 di lokasi penelitian Laut Sulawesi menunjukkan bahwa pola sirkulasi dekat permukaan ditandai oleh eksistensi aliran arus kuat yang mengarah ke selatan yang diduga sebagai inflow arus tepi barat dari Arlindo.  Pola ini berjarak sekitar 83 km ke arah timur dari pantai terdekat, dengan lebar aliran 110 km. Arus cenderung kuat dengan bertambahnya kedalaman, seperti di perairan Derawan.

Arus ini kemudian berbelok ke arah tenggara menyusuri topografi dangkal. Percabangan arus terjadi di sebelah utara dari mulut Selat Makassar. Satu cabang masuk ke Selat Makassar sebagai Arlindo Makassar, satu cabang lagi ke arah timurlaut.  Di tepi sumbu utama aliran arus kuat, terdapat wilayah transisi dengan arus yang relatif lemah. Hasil observasi EWIN 2014 ini menjadi temuan pertama kali, sekaligus mengkonfirmasi permodelan Arlindo tentang arus batas barat (western boundary current).

Pengukuran temperatur yang dilakukan EWIN 2014 juga mengindikasikan stratifikasi massa air. Lapisan termoklin terletak di bawah tercampur (mixed layer), ditandai dengan menurunnya gradien temperatur di kedalaman 100-400 meter. Di bawah lapisan termoklin ini tercatat temperatur kurang dari 8 derajat Celcius.

Arlindo tidak hanya membawa massa air yang kaya nutrien dan oksigen. Arus lintasan ini berperan besar dalam proses distribusi larva berbagai biota di Laut Sulawesi dan Selat Makassar.  Laut Sulawesi memiliki kekhasan dan keunikan dengan adanya garis Wallace dan Arlindo. Perpaduan pola permodelan garis Wallace dan Arlindo memiliki kemiripan.

Garis Wallace sebagai pembatas dengan kekhasan spesies di darat (Sulawesi), sedangkan Arlindo sebagai satu pintu masuk sirkulasi massa air yang memiliki keanekaragaman biota laut.  Spesies di darat terisolasi dalam ruang hidup di pulau dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Di laut, dengan Arlindo sebagai jalur distribusi larva dan berbagai organisme dari Samudera Pasifik ke Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga Samudera Hindia.

Verrianto Madjowa
Kompas.com – 19/11/2017
Advertisements

Peran Masyarakat Limnologi Indonesia (MLI) menuju ekosistem perairan darat yang sehat

November 15, 2017

RUMUSAN PIT (Pertemuan Ilmiah Tahunan) MLI 2017

Point I

Kondisi terkini perairan Indonesia yg terekam saat ini bervariasi dari level normal hingga gangguan berat. Perairan yang dalam kondisi normal yaitu Danau Hanjalutung, Kalimantan Tengah.Perairan dalam kondisi sedang yaitu danau-danau di Kalimantan Timur yaitu Danau Jempang, Danau Melintang dan Danau Semayang. Perairan dalam kondisi berat yaitu Citarum hulu, Waduk Cirata dan Jatiluhur, Waduk Jatiluhur, Danau Maninjau dan Danau Limboto (logam berat). Kematian ikan masal di Danau Maninjau sepanjang tahun 2016 mencapai 80 milyar rupiah. Jadi aktivitas KJA di samping menurunkan kualitas air juga menimbulkan kerugian materil. Untuk mengatasi daya tampung bahan pencemar air dan terjaminnya ketersediaan air bersih, aplikasi sain dan teknologi harus dikembangkan dan diterapkan untuk pengelolaannya.

Poin II

Kondisi biota perairan ditinjau dari keragaman makrofita menunjukan adanya spesies intensif di Danau Sentarum, penutupan vegetasi riparian di Rawa Pening 50-70%. Berdasarkan kelimpahan jenis ikan yang masih cukup baik antara lain di Hulu Citanduy dan Citarum, Hanjalutung, Sungai Pegunungan Meratus, dan Sungai Barito. Keragaman biota terutama komunitas ikan terdapat satu ancaman dari keberadaan ikan asing yaitu di Danau Matano dari ikan lohan mengingat danau tsb memiliki keragaman ikan dengan endemisitas tinggi. Pemantauan keragaman ikan yg cukup baik di Hulu Citanduy dan sungai-sungai di Solok Selatan.

Poin III

Biota perairan darat yang menjadi objek penelitian bervariasi mulai dari ikan komersil seperti nila, patin, lele dan ikan mas; serta biota asli Indonesia seperti udang regang dan ikan Oryzias (yang juga endemik D. Towuti). Kegiatan-kegiatan penelitian yang dipresentasikan pada topik rekayasa biota dan habitat perairan darat antara lain mengenai optimasi kondisi lingkungan dan biologis untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan biota yang optimal, serta dampak aktivitas budidaya dan teknologi untuk mengatasi pencemaran.

Point IV

Kemajuan penelitian yang terekam saat ini meliputi:

Pemanfaatan citra satelit sebagai metode baru dalam penentuan klorofil, karakterisasi lahan basah di DAS, lengas tanah, estimasi runoff, sebaran banjir, dan variabilitas iklim. Pengembangan kajian paleolimnologi untuk rekonstruksi kondisi lingkungan masa lampau; Kajian limnologi fisik, yaitu dampak angin terhadap struktur termal di Danau Maninjau.

Perencanaan model konservasi, baik untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang, diperlukan berbagai model hidrologi, model iklim, modek kependudukan (kebutuhan air), dengan input data-data yang memiliki presisi tinggi,.

Pembangunan embung meruapakan salah satu konservasi sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan air baik domestic maupun pertanian serta utk mengkonservasi flora fauna yang ada di dalamnya.

Perlunya integrasi antar institusi dan stake holder untuk menunjang model pengelolaan lingkungan sehingga dapat untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul akibat tingginya dinamika perubahan lingkungan perairan darat

Peran MLI dalam kerangka pembangunan yaitu memberikan masukan terkait kerangka regulasi kelembagaan dan prioritas nasional skala desa, kecamatan, kabupaten maupun nasional. Bersifat langsung diterapkan maupun strategi konseptual jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

 

Sumber: Tim Panitia MLI 2017


Visiting Technical Service Unit of Maninjau at Agam Regency

October 1, 2017

From September 10 – 13, 2017, Researchers from Research Centre for Limnology-LIPI, University of Tsukuba and Ibaraki Kasumigaura Environmental Science Centre visited Lake Maninjau and Technical Service Unit of Maninjau at Agam regency.

On September 11 – 12, 2017, we conducted water sampling and spektro radiometer measurement at both lakes (Lake Maninjau and Lake Singkarak)

September 13, 2017, we have a meeting with stakeholder, the people surround Lake Maninjau and local government) at Wali Nagari Tanjung Sani.

Prof. Fukushima from Ibaraki Kasumigaura Environmental Science Centre (IKESC) shared his experience and his institute for protection and conservation at Lake Kasumigaura. At the end of the meeting, we conducted restocking fishes (Bada) in Lake Maninjau.

 


KONFERENSI DANAU NUSANTARA

September 28, 2017

Gorontalo, 21 – 23 September 2017

Tema kegiatan Konferensi Danau Nusantara adalahPenyelamatan Ekosistem Danau berbasis Transdisiplinir

TUJUAN KEGIATAN

  • Mengeksplore isu-isu aktual dalam pengelolaan danau di Indonesia sebagai progress dari pertemuan/konferensi danau tahun-tahun sebelumnya
  • Menghasilkan solusi dan Aksi nyata dalam penanggulangan kerusakan danau di Indonesia berbasis pendekatan transdisiplinir
  • Meningkatkan kerjasama diantara kepala-kepala daerah dalam upaya Revitalisasi dan Resilience danau di Indonesia.

TARGET KEGIATAN

  1. Terbentuknya Forum Danau Nusantara sebagai salah satu forum Gerakan Penyelamatan Danau-danau Kritis di Indonesia
  2. Dihasilkannya model kebijakan penyelamatan ekosistem danau berbasis transdisiplinir
  3. Menghasilkan kerja sama antar kepala-kepala daerah dalam program penyelamatan danau

Keterangan lebih lanjut di Klik

Sumber: Pemkab Gorontalo


Archipelago Lake Conferenec 2017

September 25, 2017

Archipelago Lake Conferenec 2017 – Gorontalo Regency, Indonesia, September 21 – 23, 2017.

Theme: Inter-diciplinary – Based Lake Ecosystem Rescue


The Indonesian Society of Limnology, Seminar October 30 – 31, 2017

August 27, 2017


Kegiatan “Visiting Research” untuk Kerja Sama Penelitian dengan Pihak Jepang

June 2, 2017

Pada tanggal 30 Januari – 28 Februari 2017, penulis bersama Dr. Iwan Ridwansyah mengikuti program JSPS – LIPI selama sebulan di University of Tsukuba, Japan.  Kegiatan JSPS – LIPI merupakan tahun anggaran kedua dari tiga tahun rencana proyek kerja sama dalam bidang monitoring kualitas air danau dengan teknologi remote sensing.

Ada 3 kegiatan yang dilakukan dalam “visiting research” ini selama 1 bulan oleh penulis dan Dr. Iwan Ridwansyah, yakni :

  1. Kegiatan JSPS-LIPI yang dilakukan di University of Tsukuba
  2. Kunjungan ke ILEC dan Lake Biwa sebagai kelanjutan dari kerja sama penyelenggaraan WLC 2016 di Bali.
  3. Kunjungan ke CSEAS – Kyoto University sebagai tindak lanjut dari Mou antara Puslit Limnologi dan CSEAS, Kyoto University.

 

Pictures

Bersama tim peneliti dari University of Tsukuba dalam kegiatan JSPS – LIPI

Kunjungan ke ILEC dan Danau Biwa

Diskusi potensi kerja sama antara Puslit Limnologi LIPI – CSEAS Kyoto University