Visiting Technical Service Unit of Maninjau at Agam Regency

October 1, 2017

From September 10 – 13, 2017, Researchers from Research Centre for Limnology-LIPI, University of Tsukuba and Ibaraki Kasumigaura Environmental Science Centre visited Lake Maninjau and Technical Service Unit of Maninjau at Agam regency.

On September 11 – 12, 2017, we conducted water sampling and spektro radiometer measurement at both lakes (Lake Maninjau and Lake Singkarak)

September 13, 2017, we have a meeting with stakeholder, the people surround Lake Maninjau and local government) at Wali Nagari Tanjung Sani.

Prof. Fukushima from Ibaraki Kasumigaura Environmental Science Centre (IKESC) shared his experience and his institute for protection and conservation at Lake Kasumigaura. At the end of the meeting, we conducted restocking fishes (Bada) in Lake Maninjau.

 

Advertisements

Kegiatan “Visiting Research” untuk Kerja Sama Penelitian dengan Pihak Jepang

June 2, 2017

Pada tanggal 30 Januari – 28 Februari 2017, penulis bersama Dr. Iwan Ridwansyah mengikuti program JSPS – LIPI selama sebulan di University of Tsukuba, Japan.  Kegiatan JSPS – LIPI merupakan tahun anggaran kedua dari tiga tahun rencana proyek kerja sama dalam bidang monitoring kualitas air danau dengan teknologi remote sensing.

Ada 3 kegiatan yang dilakukan dalam “visiting research” ini selama 1 bulan oleh penulis dan Dr. Iwan Ridwansyah, yakni :

  1. Kegiatan JSPS-LIPI yang dilakukan di University of Tsukuba
  2. Kunjungan ke ILEC dan Lake Biwa sebagai kelanjutan dari kerja sama penyelenggaraan WLC 2016 di Bali.
  3. Kunjungan ke CSEAS – Kyoto University sebagai tindak lanjut dari Mou antara Puslit Limnologi dan CSEAS, Kyoto University.

 

Pictures

Bersama tim peneliti dari University of Tsukuba dalam kegiatan JSPS – LIPI

Kunjungan ke ILEC dan Danau Biwa

Diskusi potensi kerja sama antara Puslit Limnologi LIPI – CSEAS Kyoto University


Myanmar Biodiversity and Wildlife Conservation Workshop

December 25, 2016

The first International Workshop on Myanmar Biodiversity and Wildlife Conservation (2016) held in Department Zoology, University of Yangon on December 12 – 13, 2016.  Main sponsor of this workshop is Norwegian Environmental Agency (NEA), Norwegian Embassy of Yangon

The detail agenda as below: workshop-schedule

img-20161213-wa0023 p_20161212_150524

 


Letter of Intent (LOI)

August 21, 2016

On August 16, 2016 at Research Centre for Limnology – LIPI, Cibinong, the document of Letter of Intent (LOI) between Research Centre for Limnologi LIPI and Diponegoro University (UNDIP) – Faculty Science and Mathematics, has been signed by two sides of each intitution.

The cooperation will be focused on Paleo-Limnology in Indonesian inland water (several lakes in Indonesia).  Prof. Dr. Widowati (Dean of Faculty Science and Mathematics – UNDIP) and Dr. Fauzan Ali (Director of Research Centre for Limnology – LIPI) support this collaboration on the paleolimnology study in order to answer the challenge of Indonesian inland water problems in the future.

foto MoU undip

-LS


Visiting and discussion at USM – Malaysia for ASEAN Collaboration

January 3, 2016

With Bureau of Cooperation, Legal and Public Relation – LIPI, we had visited Universiti Sains Malaysia (USM), Faculty of Biology on December 20 – 22, 2015.

We hope that this is an initial for strengthen collaboration in ASEAN, especially for freshwater biodiversity and aquatic ecosystem.  Next, we will try to make an effort for our activities on our freshwater projects.

-LS-


Discussion at Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

April 26, 2015

Discussion has been conducted at Institute Teknologi Sepuluh Nopember on April 23, 2015.  The discussion to find the collaboration potential between Research Center for Limnology – LIPI and Geomatics Engineering – ITS.
The main topics in discussion: Coastal management and Inland Water monitoring.

foto2foto1


6 Masalah yang Hantui Sungai Citarum

December 27, 2014

Sabtu, 27 Desember 2014 | 09:18 WIB

KOMPAS/Rony Ariyanto Nugroho. Sejumlah warga melintasi Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terendam banjir, Jumat (19/4/2013).

BANDUNG, KOMPAS.com – Sungai Citarum tak pernah lepas dari perbincangan. Kini, namanya kembali mencuat setelah dituduh sebagai penyebab banjir besar di Bandung selatan yang telah merendam daerah tersebut sejak Kamis, 18 desember 2014. Sedikitnya 36 ribu rumah terendam dengan ketinggian 30 cm-3 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Adang Saf Ahmad CES, mengatakan bahwa persoalan di Citarum sangat kompleks. Selama menjabat sebagai kepala BBWS, setidaknya ia mengantongi enam persoalan yang harus segera ditangani semua pihak.

“Persoalan pertama, sedimentasi yang tinggi di dasar sungai Citarum,” ujar Adang di Bandung beberapa waktu lalu.
Persoalan kedua, gundulnya hutan di seputar hulu Sungai Citarum, terutama di Kecamatan Kertasari dan Pacet Kabupaten Bandung. Kondisi ini menyebabkan erosi yang sangat tinggi. Pasalnya, setiap hujan turun, butir-butir tanah langsung terbawa mengalir lalu mengendap di wilayah hilir.
“Menurut catatan kami, lumpur yang mengendap di dasar Sungai Citarum mencapai 500 ribu meter kubik per tahun. Ya bagaimana tidak, lahan seluas 26 ribu hektare di wilayah hulu, yakni di Gunung Wayang sudah sangat kritis. Jelas kondisi itu sangat berdampak terhadap kondisi sungai akibat sedimentasi yang luar biasa terjadi dengan cepat,” ungkapnya seperti dikutip majalah internal BBWS.

Ketiga, terjadi penurunan muka air tanah yang rata-rata mencapai 8,3 cm per tahun. Selain berkurangnya daerah tangkapan air karena penggundulan hutan untuk pertanian di wilayah hulu, penggunaan air tanah yang melebihi batas juga menjadi penyebab utama.

Keempat, sampah. Menurut data yang dimilikinya, sampah yang dibuang ke Sungai Citarum mencapai 9.000 meter kubik. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Masyarakat masih beranggapan, sungai adalah tong sampah.

kelima, perilaku pengusaha industri yang membuang limbah cairnya ke sungai tanpa diproses melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Itu bisa dilihat saat musim kemarau. Air yang seharusnya bening berubah menjadi beraneka warna dengan bau bahan kimia yang menyengat. Terkadang berwarna hitam pekat, merah, atau lainnya.
“Limbah industri dan sampah yang masuk ke Sungai Citarum, membuatnya masuk pada kategori sungai paling tercemar di dunia,” terangnya.

Masalah terakhir adalah defisit ketersediaan air minum untuk wilayah Bandung raya. Penyebabnya kemampuan hutan untuk menyerap air hujan menurun drastis karena penggundulan.
Selain itu, alih fungsi lahan ke permukiman yang tinggi membuat permukaan tanah tertutup tembok-tembok bangunan sehingga air tak bisa meresap dan mengalir begitu saja. Kondisi ini diperparah dengan penggunaan air tanah yang tidak terkendali.
“Apalagi Bandung ini merupakan daerah terpadat keempat di Indonesia. Maka kebutuhan air minum menjadi sangat tinggi. Diperkirakan pada 2030 nanti, defisitnya sekitar 11,6 meter kubik per detik,” tutupnya.


Penulis : Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor : Hindra Liauw