Laut Sulawesi, Perpaduan Garis Wallace dan Arlindo

BILA kita menyimak peta Kepulauan Nusantara ketika naturalis berkebangsaan Inggris Alfred Russel Wallace melakukan perjalanan pada abad 19, tak ada nama Laut Sulawesi.  Di peta, Laut Sulawesi masih bernama Soeloe ZEE. Antara Borneo (Kalimantan) dan Filipina tertulis Mindoro ZEE. Peta Kepulauan Nusantara tersebut bersumber dari Natuurkundige Kaart van Insulinde, Wallace en Allen.

Di masa itu, nama Sulawesi dan Laut Sulawesi belum dikenal. Sebutan Sulawesi adalah Celebes seperti ketika Wallace menjejakkan kaki di Makassar pada September–November 1856 dan Juli–November 1857. Begitu pula ketika Wallace tiba di Manado pada Juni–September 1859.  Nama Celebes digunakan pertama kali oleh sejarawan Portugis Tome Pires dalam buku Suma Oriental. Buku ini ditulis di India dan Maluku antara tahun 1512-1515. Orang Portugis berlayar ke kepulauan Maluku–penghasil rempah-rempah–melalui Singapura, Tanjung Putting, dan Buton. Kadang-kadang melalui Makassar, Celebes, Banggai dan Siau.

Peta Celebes pertama bangsa Portugis dilukis sesudah pelayaran Antonio de Paiva, pada 1544. Antonio de Paiva pernah tinggal selama setahun di Makassar (1542-1543), lalu melukis pulau Celebes.  Peta ini seperti dalam sejarah geologi Sulawesi sebelum peristiwa tabrakan dengan Sulawesi Timur. Hanya memanjang dengan beberapa teluk di semenanjung Sulawesi Selatan.  Di ujung utara Sulawesi, seperti disebutkan Christian Pelras (2006), Ponta de Celebes (Tanjung Celebes), Celebes Regiam (daerah Celebes), di sebelah barat terbaca Tetoly (Toli-toli), juga tertulis AeQUINOCT (Katulistiwa).

Laut Sulawesi

Kini Soeloe ZEE seperti dalam peta Wallace menjadi Laut Sulawesi dan Mindoro ZEE berganti nama menjadi Laut Sulu. Negara yang secara langsung masuk dalam perwilayahan di Laut Sulawesi, yakni Indonesia, Filipina dan Malaysia.  Di Indonesia, Laut Sulawesi membentang dari Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Laut Sulawesi masuk dalam Kawasan Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle). Kawasan ini mencakup enam negara di dunia, masing-masing Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.

Laut Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi tulang punggung bagi kehidupan masyarakat pesisir yang bertumpu pada mata pencaharian dari laut. Mereka ini menangkap ikan karang, demersal dan pelagis, serta kegiatan budidaya.

Di Laut Sulawesi, berdasarkan hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2014 yang telah dilakukan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), ada beberapa temuan baru.  Temuan ini mengonfirmasi hasil penelitian sebelumnya. Seperti spesies fitoplankton Asteromphalus hyalinus yang biasanya hanya hidup di perairan dingin, di laut beriklim sub-tropika dan Arktik, telah ditemukan di Laut Sulawesi.  Kemudian fitoplankton spesies Bellerochea horologicales yang berkembang di perairan Florida (Gulf of Mexico) dan Meville (Australia). Belum ada laporan spesies ini hidup di perairan tropis. Fitoplankton ornithocercus diduga jenis baru karena belum ditemukan dalam literatur.

Garis Wallace

Wallace dikenal sebagai pencetus garis Wallace. Garis imajiner ini membentang dari sebelah timur Filipina, melintasi laut Sulawesi, Selat Makassar, selanjutnya antara Bali dan Lombok.  Wallace menuliskan bahwa kita mempunyai petunjuk tentang bagaimana suatu benua luas beserta flora dan fauna yang khas, lambat laun terpecah belah. Pulau Sulawesi barangkali bagian pinggiran benua paling barat.

Namun, belum ada kesesuaian sejarah geologi Sulawesi yang bisa dihubungkan dengan fauna yang ada. Wallace mengindikasikan bahwa Celebes sebagai hasil perluasan benua Asia di bagian timur pada zaman dahulu.  Kala itu, Celebes mula-mula masih berupa daratan luas, kemudian terpisah menjadi pulau-pulau seperti sekarang dan hampir bersentuhan dengan pulau-pulau yang tercerai dari benua di selatan.

Jumlah spesies hewan di Pulau Sulawesi lebih sedikit, tetapi lebih kaya dengan keunikan dan keindahan bentuk. Terdapat 73 persen spesies khas di Sulawesi.

Garis Wallace (KOMPAS)

Kekhasan dan keunikan ini tidak ditemukan di tempat lain di dunia, seperti sapi hutan anoa (Anoa depressicornis), monyet hitam, kelelawar, kelompok serangga, maleo (Macrocephalon maleo) dan kelompok burung lainnya, serta babi rusa (Babyrousa babyrussa). Ada kemiripan tanduk babi rusa dengan warthog Afrika (Phacochoerus africanus) yang gigi taringnya mencuat ke luar dan melengkung ke atas.

Arlindo

Adalah Abdul Gani Ilahude tercatat sebagai perintis oseanografi yang memperkenalkan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau “Indonesian Through Flow” (ITF). Ilahude termasuk salah satu pionir dalam riset oseanografi terapan di perairan Indonesia, dengan fokus pada penelitian Arlindo.  Cabang utama Arlindo di perairan Indonesia berada di Laut Sulawesi. Arus ini dari Samudera Pasifik hingga ke Samudera Hindia, melalui pintu masuk Laut Sulawesi ke Selat Makassar. Polanya mirip dengan garis Wallace.

Menurut Ilahude, Arlindo merupakan aliran (arus) lintas Indonesia yang secara dinamika dibentuk oleh empohan air hangat (warm water pool) di Timur Mindanao dan Timur laut Halmahera hasil angkutan massa air.

Arus Katulistiwa Utara (AKU) dan Arus Katulistiwa Selatan (AKS) yang berkumpul di tempat itu menyebabkan perbedaan tarah (permukaan yang rata) laut (sea level) 40 cm lebih tinggi dibandingkan dengan yang di selatan pantai Jawa-Sumbawa.  Hal ini yang membuat pola aliran massa air dari Samudera Pasifik yang didorong lewat Indonesia ke Samudera Hindia. Lintasan ini merupakan bagian dari Great Ocean Conveyor Belt, yaitu siklus global pergerakan lautan dunia. Karena itu, Arlindo berperan penting dalam perkembangan iklim dunia.

Hasil pengukuran yang dicatat EWIN 2014 di lokasi penelitian Laut Sulawesi menunjukkan bahwa pola sirkulasi dekat permukaan ditandai oleh eksistensi aliran arus kuat yang mengarah ke selatan yang diduga sebagai inflow arus tepi barat dari Arlindo.  Pola ini berjarak sekitar 83 km ke arah timur dari pantai terdekat, dengan lebar aliran 110 km. Arus cenderung kuat dengan bertambahnya kedalaman, seperti di perairan Derawan.

Arus ini kemudian berbelok ke arah tenggara menyusuri topografi dangkal. Percabangan arus terjadi di sebelah utara dari mulut Selat Makassar. Satu cabang masuk ke Selat Makassar sebagai Arlindo Makassar, satu cabang lagi ke arah timurlaut.  Di tepi sumbu utama aliran arus kuat, terdapat wilayah transisi dengan arus yang relatif lemah. Hasil observasi EWIN 2014 ini menjadi temuan pertama kali, sekaligus mengkonfirmasi permodelan Arlindo tentang arus batas barat (western boundary current).

Pengukuran temperatur yang dilakukan EWIN 2014 juga mengindikasikan stratifikasi massa air. Lapisan termoklin terletak di bawah tercampur (mixed layer), ditandai dengan menurunnya gradien temperatur di kedalaman 100-400 meter. Di bawah lapisan termoklin ini tercatat temperatur kurang dari 8 derajat Celcius.

Arlindo tidak hanya membawa massa air yang kaya nutrien dan oksigen. Arus lintasan ini berperan besar dalam proses distribusi larva berbagai biota di Laut Sulawesi dan Selat Makassar.  Laut Sulawesi memiliki kekhasan dan keunikan dengan adanya garis Wallace dan Arlindo. Perpaduan pola permodelan garis Wallace dan Arlindo memiliki kemiripan.

Garis Wallace sebagai pembatas dengan kekhasan spesies di darat (Sulawesi), sedangkan Arlindo sebagai satu pintu masuk sirkulasi massa air yang memiliki keanekaragaman biota laut.  Spesies di darat terisolasi dalam ruang hidup di pulau dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Di laut, dengan Arlindo sebagai jalur distribusi larva dan berbagai organisme dari Samudera Pasifik ke Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga Samudera Hindia.

Verrianto Madjowa
Kompas.com – 19/11/2017
Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: