6 Masalah yang Hantui Sungai Citarum

Sabtu, 27 Desember 2014 | 09:18 WIB

KOMPAS/Rony Ariyanto Nugroho. Sejumlah warga melintasi Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terendam banjir, Jumat (19/4/2013).

BANDUNG, KOMPAS.com – Sungai Citarum tak pernah lepas dari perbincangan. Kini, namanya kembali mencuat setelah dituduh sebagai penyebab banjir besar di Bandung selatan yang telah merendam daerah tersebut sejak Kamis, 18 desember 2014. Sedikitnya 36 ribu rumah terendam dengan ketinggian 30 cm-3 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Adang Saf Ahmad CES, mengatakan bahwa persoalan di Citarum sangat kompleks. Selama menjabat sebagai kepala BBWS, setidaknya ia mengantongi enam persoalan yang harus segera ditangani semua pihak.

“Persoalan pertama, sedimentasi yang tinggi di dasar sungai Citarum,” ujar Adang di Bandung beberapa waktu lalu.
Persoalan kedua, gundulnya hutan di seputar hulu Sungai Citarum, terutama di Kecamatan Kertasari dan Pacet Kabupaten Bandung. Kondisi ini menyebabkan erosi yang sangat tinggi. Pasalnya, setiap hujan turun, butir-butir tanah langsung terbawa mengalir lalu mengendap di wilayah hilir.
“Menurut catatan kami, lumpur yang mengendap di dasar Sungai Citarum mencapai 500 ribu meter kubik per tahun. Ya bagaimana tidak, lahan seluas 26 ribu hektare di wilayah hulu, yakni di Gunung Wayang sudah sangat kritis. Jelas kondisi itu sangat berdampak terhadap kondisi sungai akibat sedimentasi yang luar biasa terjadi dengan cepat,” ungkapnya seperti dikutip majalah internal BBWS.

Ketiga, terjadi penurunan muka air tanah yang rata-rata mencapai 8,3 cm per tahun. Selain berkurangnya daerah tangkapan air karena penggundulan hutan untuk pertanian di wilayah hulu, penggunaan air tanah yang melebihi batas juga menjadi penyebab utama.

Keempat, sampah. Menurut data yang dimilikinya, sampah yang dibuang ke Sungai Citarum mencapai 9.000 meter kubik. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Masyarakat masih beranggapan, sungai adalah tong sampah.

kelima, perilaku pengusaha industri yang membuang limbah cairnya ke sungai tanpa diproses melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Itu bisa dilihat saat musim kemarau. Air yang seharusnya bening berubah menjadi beraneka warna dengan bau bahan kimia yang menyengat. Terkadang berwarna hitam pekat, merah, atau lainnya.
“Limbah industri dan sampah yang masuk ke Sungai Citarum, membuatnya masuk pada kategori sungai paling tercemar di dunia,” terangnya.

Masalah terakhir adalah defisit ketersediaan air minum untuk wilayah Bandung raya. Penyebabnya kemampuan hutan untuk menyerap air hujan menurun drastis karena penggundulan.
Selain itu, alih fungsi lahan ke permukiman yang tinggi membuat permukaan tanah tertutup tembok-tembok bangunan sehingga air tak bisa meresap dan mengalir begitu saja. Kondisi ini diperparah dengan penggunaan air tanah yang tidak terkendali.
“Apalagi Bandung ini merupakan daerah terpadat keempat di Indonesia. Maka kebutuhan air minum menjadi sangat tinggi. Diperkirakan pada 2030 nanti, defisitnya sekitar 11,6 meter kubik per detik,” tutupnya.


Penulis : Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor : Hindra Liauw

Comments are closed.

%d bloggers like this: