Keragaman hayati dunia menurun

Jakarta (ANTARA News) – World Wild Fund (WWF) melaporkan kekayaan keragaman hayati dunia menurun. Salah satu penyebab adalah peningkatan populasi dunia yang berdampak luar biasa pada kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan masa depan penduduk bumi.   “Kita hanya memiliki satu bumi. Dari atas sini saya bisa melihat jejak ekologis yang ditinggalkan manusia, seperti kebakaran hutan, pencemaran air dan erosi. Semua ini adalah tantangan,” kata astronot Belanda, Andre Kulpers, dalam The Living Planet Report 2012, dan rilis yang diterima ANTARA, Selasa.

The Living Planet Report adalah laporan dua tahunan tentang kondisi kesehatan planet bumi yang disusun oleh WWF dan bekerja sama dengan Zoological Society of London dan Global Footprint Network.   Meskipun kerusakan di bumi masih berlangsung, katanya, manusia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya demi kehidupan pada masa yang akan datang.   “Meskipun praktik tidak ramah lingkungan masih terus terjadi di planet bumi, kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkannya, bukan hanya untuk kepentingan kita saat ini, melainkan untuk generasi pada masa depan,” kata Kulpers.

Dalam rilis tersebut, Direktur Konservasi WWF Indonesia, Nazir Foead, mengatakan, jumlah keanekaragaman hayati mengalami penurunan dan Ecological Footprints atau Jejak Ekologis juga menunjukkan tidak lestarinya konsumsi sumber daya alam di dunia. “Kita menggunakan sumber daya bumi 50 persen lebih banyak dari yang mampu disediakan bumi secara berkelanjutan. Apabila kita, penduduk dunia, tidak mengubah tabiat ini, laju permintaan akan terus tumbuh dengan cepat, dan pada tahun 2030, dua planet pun bahkan tak akan cukup untuk mendukung kebutuhan kita,” kata Foead.

Dia menuturkan, sebanyak 9.000 dari sekitar 2.600 spesies hayati yang dipantau oleh tim penulis laporan tersebut hampir 30 persen mengalami penurunan sejak 1970, dengan jumlah penurunan paling besar pada wilayah tropis, yaitu sebanyak 60 persen dalam jangka waktu kurang dari 40 tahun.   Dia mengungkapkan, dampak dari urbanisasi merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan. Pada tahun 2050, dua dari tiga orang akan tinggal di kota, dan ini membutuhkan cara baru yang lebih baik dalam mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia.   “Sembilan atau sepuluh miliar orang yang hidup berbagi planet pada tahun 2050 bisa tetap memiliki masa depan berkecukupan, pangan, air, dan energi. Syaratnya, harus ada pengurangan limbah, pengelolaan air dan penggunaan sumber daya terbarukan dari energi yang bersih dan berlimpah, seperti panas bumi dan sinar matahari,” kata Nazir.

Editor: Ade Marboen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: