Cuaca Ekstrem Percepat Abrasi Pantai Kalsel

Senin, 16 Mei 2011, Banjarmasin (ANTARA News) – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak 2010 membuat laju abrasi di kawasan pesisir pantai jauh lebih cepat dibanding pada kondisi normal.  Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Arsyadi di Banjarmasin Senin mengatakan, kerusakan kawasan pantai tahun ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya.   Hal tersebut, kata dia, dipicu kondisi cuaca ekstrem yang mengakibatkan gelombang besar atau lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Saat ini kata dia, diperkirakan 10 persen dari panjang kawasan pantai sepanjang 1.300 kilometer di Kalimantan Selatan, mengalami kerusakan akibat abrasi.  Abrasi cukup parah, kata dia, terjadi antara lain di kawasan Pantai Takisung Kabupaten Tanah Laut dan Sungai Loban yang masuk wilayah Tanahbumbu.

Mengatasi kerusakan agar tidak semakin meluas, kata dia, pihaknya sedang mengusahakan untuk menahan hempasan gelombang tersebut dengan membangun bronjong di sepanjang kawasan pesisir pantai.  “Sayangnya, alokasi dana untuk pembangunan bronjong tersebut masih cukup minim sehingga kerusakan tidak sebanding dengan alokasi dana pemerintah pusat maupun daerah,” katanya.  Dengan demikian, kata dia, upaya perbaikan yang bisa dilaksanakan relatif kecil sementara areal yang terkena abrasi makin besar.

Menurut dia, karena keterbatasan dana tersebut pada 2011 pembangunan bronjong dengan batu dan kawat di pantai Takisung Kabupaten Tanah Laut hanya bisa dilaksanakan sekitar 10 kilometer.  Begitu juga dengan pantai di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu yang mengalami kerusakan cukup parah seperti di Sunagi Loban dan sekitarnya.  “Bahkan abrasi di Sungai Loban kini telah sampai ke jalan umum,” katanya.

Menurut Arsyadi, abrasi pada sejumlah titik kawasan pantai di Kecamatan Takisung sudah cukup memprihatinkan, hal ini perlu penanganan cepat pihak terkait sebelum berdampak lebih buruk.  Sebelumnya, Camat Takisung, Yugo Heru Ahmad mengatakan, abrasi yang terjadi di wilayahnya, sudah terjadi sekitar 2009 lalu dan tidak kurang 100 kepala keluarga harus pindah rumah lantaran terkena dampak gerusan air laut ini.

Menurut dia, upaya pemerintah setempat membuat penahan ombak dengan sistem bronjong belum optimal menahan ombak yang cukup kencang dan tinggi.  “Perlu banyak bronjong lagi yang dipasang di pinggiran pantai, apalagi bronjong yang ada sudah hancur diterjang ombak,” katanya. (ANT/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: