Anomali Iklim Ancam Sistem Produksi Pertanian

Gatra – Kupang, 21 Juni 2010 14:00
Kepala Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang Purwanto mengatakan, anomali atau penyimpangan iklim sering mengancam sistem produksi pertanian, yang berakibat pada gangguan produksi, seperti gagal tanam dan gagal panen, yang berujung pada kerentanan rawan pangan.

“Pengalaman menunjukkan dari waktu ke waktu bahwa bentuk penyimpangan iklim terus mendera dan mengancam sistem produksi pertanian yang berakibat pada gangguan produksi sehingga terjadi rawan pangan,” kata Purwanto di Kupang, Senin (21/6).   Ia mengemukakan hal itu, terkait gejala perubahan iklim dengan indikator perubahan musim yang ditandai dengan terjadinya angin kencang dengan kecepatan sekitar 40 km per jam yang memicu gelombang tinggi yang berdampak pada produksi perikanan.

Untuk mengantisipasi anomali iklim seperti ini, katanya, perlu dilakukan modifikasi input untuk menekan resiko kekeringan yang berdampak pada kesulitan air, baik untuk kebutuhan air bersih, pertanian dan peternakan, katanya.
Modifikasi input ini dapat dilakukan dengan cara menambah pembuatan waduk/embung-embung untuk menyimpan air. Sumber air ini nantinya bisa kembali dalam bentuk awan konvektif sehingga menurunkan hujan.
Selain itu kata Purwanto, kesadaran masyarakat untuk menanam pohon untuk kepentingan penghijauan terhadap bukit yang gundul akibat ulah manusia juga perlu dilakukan terus menerus karena selain menyimpan air juga untuk masa depan anak anak.

Kebiasaan bertani berpindah-pindah dengan sistem tebas bakar juga perlu dihindari, karena berdampak pada rusaknya ekosistem hutan yang berujung pada minimnya ketersediaan sumber daya air untuk kebutuhan ladang pertanian maupun kebutuhan manusia serta ternak.  “Semua ini dilakukan untuk menghindari bencana kekeringan kekeringan yang pernah melanda Indonesia termasuk Nusa Tenggara Timur pada tahun 1994 dan 1997,” katanya.

Menurut dia, peristiwa kekeringan yang terjadi pada tahun 1994 dan 1997, merupakan yang terburuk selama abad 20, dimana luas areal pertanian di Indonesia yang mengalami kekeringan mencapai 161.144 sampai 174.126 ha.
Kejadian ini mengakibatkan penurunan produksi beras nasional secara signifikan dan pemerintah kembali harus mengimpor beras sekitar lima juta ton untuk mengatasi masalah kerawanan sosial, katanya.  “Kerawanan sosial sebagai dampak lanjutan dari kekeringan ini akan semakin memberatkan manakala periode El Nino meningkat menjadi 2-3 tahun satu kali dari sebelumnya 5-6 tahun sekali,” katanya. [TMA, Ant]

One Response to Anomali Iklim Ancam Sistem Produksi Pertanian

  1. hildaw09 says:

    hmmm…
    memang kalo sudah faktor alam tidak bisa di hindari lagi..
    mungkin itu adalah teguran Tuhan terhadap bangsa ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: