IPTEK INDONESIA SEMAKIN TERMARJINAL

Kenyataan empirik membuktikan bahwa dengan iptek suatu negara dapat mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki dan membangun perekonomian mereka. Kemajuan perekonomian negara-negara seperti Jepang, Korea dan Taiwan adalah merupakan bukti empirik bahwa iptek merupakan faktor endogenous terpenting dalam sistem perekonomian.

Setelah 10 (sepuluh) tahun reformasi, pembangunan iptek kita seperti “jalan ditempat”. Keempat orang presiden di era reformasi (pasca orde baru) termasuk B.J. Habibie dan Susilo Bambang Yodoyono (SBY) boleh dikatakan belum berhasil menjadikan iptek sebagai pengarus utama (mainstream) pembangunan nasional. Bahkan dalam perkembangnnya, iptek tidak lagi menjadi sektor prioritas pembangunan. Stabilitas politik, keterpurukan ekonomi serta kondisi masyarakat saat ini dijadikan sebagai alasan termarjinalkannya iptek sebagai sektor prioritas pembangunan.

Tahun 2008, boleh dikatakan bahwa iptek Indonesia sudah pada titik nadir. Keberhasilan dan prestasi para siswa-siswi Indonesia di berbagai ajang olimpiade iptek, tampaknya tidak mampu menutupi merosotnya iptek Indonesia. Bahkan keberhasilan beberapa universitas Indonesia ”memperbaiki” posisi mereka dalam ranking universitas terbaik dunia seolah tidak mampu menepis wajah buram iptek Indonesia.

Terdapat beberapa indikasi semakin merosotnya kemampuan iptek Indonesia. Salah satu indikator tersebut adalah menurunnya peringkat Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based economy). Pada tahun 2007 Indonesia menempati urutan ke-91 dan pada tahun 2008 turun dua peringkat ke urutan ke-93 dari 167 negara yang disurvei.

Demikian halnya dengan peringkat Indonesia dalam daya saing global. Dalam IMD World Competitiveness Yearbook 2008, Indonesia hanya menempati urutan ke-51 dari 55 negara yang disurvei. Meskipun, posisi ini merupakan kenaikan dari tahun 2007 lalu (54), namun masih lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Sedangkan dalam hal dampak informasi teknologi dalam proses pembangunan dan inovasi (the Global Information Technology Report), Indonesia hanya ditempatkan pada posisi 76 pada tahun ini. Posisi ini merupakan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan 2007 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 62.

Bila kita melihat indikasi lain, seperti ekspor produk manufaktur menunjukkan bahwa persentase ekspor manufaktur berteknologi tinggi Indonesia hanya 16,30 persen dari total ekspor manufaktur. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia (54,70) dan Thailand (26,60).

Ketertinggalan iptek Indonesia juga tercermin dari persepsi masyarakat terhadap iptek itu sendiri. Menurut hasil penelitian LIPI pada akhir 2008, bahwa ketertarikan akan hal-hal yang berkaitan dengan iptek tidak dibarengi oleh perilaku maupun tindakan yang terkait dengan upaya memajukan iptek. Hal ini terjadi pada hampir semua kelompok masyarakat, baik mahasiswa, pejabat pemerintah hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Minimnya Anggaran

Banyak kalangan berpendapat bahwa salah satu penyebab ketertinggalan iptek Indonesia adalah anggaran iptek dan anggaran litbang yang mengalami kecendrungan penurunan tiap tahunnya.

Anggaran iptek relatif tidak banyak mengalami perubahan dalam 5 tahun terakhir, yaitu sekitar 0,5 persen dari Anggaran Pembangunan Nasional (APBN) dan 0,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara anggaran penelitian dan pengembangan (litbang) hanya 0,45 persen dari APBN dan hanya 0,09 persen dari PDB. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia (0,69 persen) dan Thailand yang telah menganggarkan dana untuk kegiatan litbang lebih dari 0,5 persen dari PDB. Bahkan negeri jiran, Malaysia, menetapkan target untuk meningkatkan anggaran litbangnya menjadi 1,5 persen dari PDB pada tahun 2010.

Presiden SBY sendiri mengakui keterbatasan pemerintah pengalokasian anggaran iptek maupun litbang yang lebih kecil dari rekomendasi UNESO yaitu, 2 persen dari PDB.

Minimnya anggaran iptek berakibat pada terbatasnya fasilitas riset, kurangnya biaya untuk operasi dan pemeliharaan, serta rendahnya insentif untuk peneliti. Terlebih lagi, pendanaan riset masih didominasi oleh pemerintah, yaitu sekitar 70-80 persen. Meskipun pemerintah telah menaikkan anggaran pendidikan namun rasionya terhadap anggaran litbang masih rendah, yaitu hanya 1,31 persen.

Permasalahan lain dalam pengembangan iptek di Indonesia adalah keinginan untuk mendapat hasil yang serba cepat (instant). Akibatnya, iptek Indonesia semakin dikucilkan di negeri sendiri. Contoh dari hal ini adalah program Blue Energy dan padi Supertoy HL2 yang banyak menuai kritik dari masyarakat.

Padahal Iptek merupakan investasi jangka panjang iptek tidak selalu harus memberi manfaat ekonomi (secara langsung). Keberhasilan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia adalah merupakan hasil investasi panjang dari program pengembangan iptek mereka.

Thailand sangat maju dalam bidang pertanian karena karakter riset di bidang tersebut telah dibangun bertahun-tahun lampau. Sementara, Malaysia telah mencanangkan penguasaan teknologi otomotif dan semikonduktor lebih dari satu dasa warsa lalu ketika masih dalam era pemerintahan Mahathir Muhammad. Kini, Malaysia dikenal dunia sebagai pengekspor utama produk-produk semikonduktor yang dibutuhkan oleh berbagai industri elektronik dunia.

Pemilu 2009

Pemilu 2009, sebenarnya sangat menentukan perkembangan iptek Indonesia di masa depan. Sayangnya, isu iptek belum banyak mendapat perhatian partai-partai politik. Hanya segelintir parpol yang memasuki iptek sebagai salah satu platform mereka. Partai dan visi maupun misi untuk memajukan iptek, ataupun menjadikan iptek sebagai motor penggerak pembangunan nasional. Padahal di negara lain iptek merupakan isu penting dalam pemilu.

Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana hangatnya perdebatan dua kandidat presiden Amerika Serikat yaitu Hillary Clinton dan Barack Hussein Obama dalam kampanye mereka beberapa waktu lalu. Melalui visi yang mereka tawarkan, keduanya berusaha meyakinkan publik akan pentingnya iptek untuk merebut kembali kejayaan Amerika, bukan dengan kekerasan seperti yang melekat pada Amerika saat ini.

Karenanya, Pemilu 2009 adalah saat yang tepat untuk tampilnya pemimpin yang visioner dan peduli akan pentingnya iptek bagi pembangunan bangsa. Hal ini akan menjadi lebih strategis, karena Indonesia mempunyai visi untuk mencapai kemandirian iptek pada tahun 2025.

Tanpa adanya kepemimpinan yang visioner, mustahil visi tersebut akan tercapai dan iptek Indonesia akan semakin termarjinalkan. Mengutip pernyataan presiden SBY beberapa waktu lalu “No future without technology. Iptek adalah solusi menyelamatkan suatu negara…”. Semoga iptek Indonesia akan semakin lebih baik di tahun mendatang….amin.

Sumber : Surabaya Post (2 Januari 2009)

One Response to IPTEK INDONESIA SEMAKIN TERMARJINAL

  1. xiao F says:

    thx for this web because i can do my homework about IPTEK ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: