Battodo

May 17, 2009

Minggu pertama Mei saat orang jepang liburan golden week, saya mendapatkan acara lburan yang sangat berharga dan tentunya menyenangkan.  Tidak dibayangkan sebelumnya, berawal saya mendapatkan email dari seorang teman di Indonesia.  Beliau mengontak saya untuk bisa mengantar dan sekaligus jadi penterjemah bahasa Jepang- Indonesia untuk rombongan yang ingin belajar Battodo (samurai) selama 3 hari di Tsurumi, Yokohama.

Hal yang menarik dari event itu, saya baru tahu kalau Battodo (kalau dari kanji-nya berarti cara mengeluarkan pedang…atau mungkin cara menggunakan pedang), yang merupakan warisan samurai jepang dari sejak jaman dulu yang masih ada sampai sekarang.  Kalau dulu digunakan untuk kepentingan perang, untuk saat ini lebih sebagai pembinaan fisik dan mental.

Battodo sendiri tidak lepas dari jiwa Busyido (jiwa yang meng-inspirasi bangsa jepang untuk selalu maju).   Semangat jujur, loyalitas, cermat, disiplin, cakap dan menjaga kehormatan.  Point ini mungkin hal yang lebih utama dan perlu kita contoh.

Dalam gerakan-gerakanya sendiri, yang basic-nya ada tiga posisi : posisi awal/standar atau kuda-kuda, posisi serang dan posisi penutup (memasukkan pedang ke sarungnya).  Masing-masing posisi ada 8 gerakan dan semuanya bisa dikombinasikan menjadi suatu gerakan battodo yang sempurna.  Setiap gerakan itu sendiri, mereka sangat mementingkan keteraturan gerakan, ada posisi-posisi tangan, kaki, wajah yang baku.  Artinya setiap gerakan seluruh posisi badan kita perlu diperhatikan tapi tentunya lantas tidak kaku, tetep luwes.

Dari pengalaman di atas, tidak saja jadi tahu sedkit banyak tentang sejarah Battodo, tentu saja mendapatkan juga ilmu dan pengalaman selama mendampingi rombongan tersebut.   Makasih atas kesempatan yang telah diberikan….

-LS


Kenapa harus gengsi…??

January 12, 2009

Di minggu kedua Januari 2009.

Di suatu kesempetan pada hari minggu yang masih dingin, saya bertemu dan sempat menanyakan kabar kesehatan salah satu teman Indonesia di Tsukuba.  Dia mengeluh sering sakit-sakit di sekitar punggungnya.  Ada beberapa dugaan memang tentang penyakitnya itu.  Ada yang menyebutkan itu faktor tulang yang mengalami cedera, ada juga yang mengatakan mungkin ada jaringan syaraf yang kejepit.  Dia juga punya alasan lain, cek medis terbaru menunjukkan gejala naiknya kolesterol.  

Minggu tersebut sedang libur panjang. dari hari Sabtu sampai Senin, jadinya susah untuk menemui dokter spesialis yang buka praktek.  Karena sudah tak tahan dengan rasa sakitnya itu, temen saya pun cerita kalau sabtu kemarin dia pergi ke klinik umum, mungkin di Indonesia seperti klinik 24 jam.  Bedanya kalau di Indonesia, klinik 24 jam biasanya dijaga oleh dokter-dokter muda yang baru lulus, tetapi kalau di Jepang, malah dokter tua yang sudah/mau pensiun dan punya pengalaman banyak (dokter-dokter mudanya mudah ditemui di rumah sakit-rumah sakit besar).

Setelah dicek dan dianalisa, pak dokter tua tersebut belum berani menyimpulkan jenis penyakitnya berdasarkan hipotesa awal yang disebutkan juga oleh teman saya itu.  Alasan dokter itu karena dia belum punya data lengkap dan akurat, perlu tes laboratory dulu.  Akhirnya temen saya tersebut diberi obat penahan sakit untuk sementara dan disarankan cek ke rumah sakit besar setelah masa liburan.

Saya jadi teringat 8 tahun lalu, tepatnya saat awal-awal bekerja sebagai PNS denga gaji belum full.  Waktu itu saya terkena sakit demam tinggi dan akhirnya dibawa temen-temen satu kost-an (belum berkeluarga) ke klinik 24 jam yang ada di kota itu.  Dengan dicek seadanya oleh dokter muda, waktu itu si dokter menyimpulkan kalau saya terkena malaria.  Waktu itu saya agak bingung dan ga  yakin juga.  Singkat cerita, penyakit saya tambah parah dan akhirnya cek di dokter langganan di kota kelahiran.  Setelah di cek darah , ternyata saya positif demam berdarah.  Alhamdulillah cepat tertolong dengan dirawat di RS beberapa hari dan akhirnya sembuh.

Saya jadi merenung, betapa apa adanya pak dokter tua tersebut, dia mengatakan tidak tahu walaupun ilmu dan pengalamannya cukup luas.  Dia tidak mau melakukan suatu keputusan yang berakibat fatal.  Dalam kehidupan sehar-hari, kadang kita malu dan gengsi dengan diri kita, malu dengan gelar/pangkat/kedudukan kita sehingga tidak mau kelihatan bodoh manakala dihadapkan suatu masalah.  Ternyata kejujuran akan keadaan sendiri akan lebih menyelamatkan masalah yang dihadapi tanpa harus menjadi turun kewibawaan seseorang.  Memang….kadang kita sibuk dengan topeng yang dibalut dengan gelar, pangkat dan kedudukan daripada sibuk untuk belajar dan memperbaiki dirinya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.