Ciliwung, Dulu Terbersih Kini Tempat Sampah

December 9, 2010

Banjir lagi, banjir lagi. Jakarta di tangan ahlinya saja masih kewalahan menghadapi fenomena yang satu ini. Jangankan menghilangkan, meminimaliskan banjir saja bukan main susahnya.  Perilaku masyarakat dituding menjadi penyebab terjadinya banjir atau genangan. Membuang sampah sembarangan sehingga drainase menjadi tersumbat memang merupakan pemandangan sehari-hari, terutama di wilayah-wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung.

Curah hujan yang tinggi, penumpukan sampah, pendangkalan sungai, drainase buruk, dan minimnya tanah resapan, merupakan penyebab banjir di Jakarta yang sudah lama teridentifikasi. Pesatnya urbanisasi ke Jakarta menjadi salah satu faktor kondisi ini.

Tidak diperkirakan sebelumnya, dalam kurun waktu seratus tahun saja sungai-sungai di Jakarta telah mengalami penurunan kualitas sangat besar. Pada abad XIX, air sungai-sungai di Jakarta masih bening sehingga bisa digunakan untuk minum, mandi, dan mencuci pakaian.

Bahkan ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung banyak dipuji-puji pendatang asing. Disebutkan, pada abad XV – XVI Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota. Hal ini sangat dirasakan para pedagang yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa.  Ketika itu Ciliwung mampu menampung 10 buah kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton, masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda Kelapa. Kini jangankan kapal besar, kapal kecil saja sulit melayari Ciliwung karena baling-baling kapal hampir selalu tersangkut sampah.

Sumber lain mengatakan, selama ratusan tahun air Ciliwung mengalir bebas, tidak berlumpur, dan tenang. Karena itu banyak kapten kapal asing singgah untuk mengambil air segar yang cukup baik untuk diisikan ke botol dan guci mereka.  Jean-Baptiste Tavernier, sebagaimana dikutip Van Gorkom, mengatakan Ciliwung memiliki air yang paling baik dan paling bersih di dunia (Persekutuan Aneh, 1988).

Dulu, berkat Sungai Ciliwung yang bersih, kota Batavia pernah mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota-kota ternama di Eropa, seperti Venesia di Italia.  Karena dikuasai penjajah, tentu saja kota Batavia dibangun mengikuti pola di Belanda. Ciri khasnya adalah dibelah oleh Sungai Ciliwung, masing-masing bagian dipotong lagi oleh parit (kanal) yang saling sejajar dan saling melintang.  Pola seperti ini mampu melawan amukan air di kala laut pasang, dan banjir di dalam kota karena air akan menjalar terkendali melalui kanal ke segala penjuru.

Kemungkinan bencana ekologi di Jakarta mulai terjadi sejak 1699 ketika Gunung Salak di Jawa Barat meletus. Erupsinya berdampak besar, antara lain menyebabkan iklim Batavia menjadi buruk, kabut menggantung rendah dan beracun, parit-parit tercemar, dan penyakit-penyakit aneh bermunculan.  Maka kemudian orang tidak lagi menjuluki Batavia sebagai “Ratu dari Timur”, melainkan “Kuburan dari Timur”. Bencana ini berdampak pada pemerintahan di Batavia yang mulai goyah karena banyak pihak saling tuding terhadap musibah tersebut.

Para pengambil kebijakan terdahulu dinilai salah karena telah membangun kota dengan menyontoh kota gaya Belanda. “Batavia adalah kota bercorak tropis. Berbeda jauh dengan Belanda yang memiliki empat musim,” begitu kira-kira kata pihak oposisi.  Sebagian orang menduga, bencana ekologi itu disebabkan oleh kepadatan penduduk. Batavia memang semula dirancang sebagai kota dagang. Karenanya banyak pendatang kemudian menetap secara permanen di sini. Sejak itulah perlahan-lahan Ciliwung mulai tercemar.  Berbagai limbah pabrik gula dibuang ke Ciliwung. Demikian pula limbah dari usaha binatu dan limbah-limbah rumah tangga, karena berbagai permukiman penduduk banyak berdiri di sepanjang Ciliwung.

Dalam penelitian tahun 1701 terungkap bahwa daerah hulu Ciliwung sampai hilir di tanah perkebunan gula telah bersih ditebangi. Sebagai daerah yang terletak di tepi laut, tentu saja Batavia sering kali kena getahnya. Kalau sekarang Jakarta hampir selalu mendapat “banjir kiriman” dari Bogor, dulu “lumpur kiriman” bertimbun di parit-parit kota Batavia setiap tahunnya.

Pada awal abad ke-19 Batavia tidak lagi merupakan benteng kuat dan kota berdinding tembok. Karenanya, pada awal abad ke-20 Batavia sudah menjadi kota yang berkembang dengan penduduk berjumlah 100.000 orang. Bahkan dalam beberapa tahun saja penduduk kota sudah meningkat menjadi 500.000 orang.

Adanya nama-nama tempat yang berawalan hutan, kebon, kampung, dan rawa setidaknya menunjukkan dulu Jakarta merupakan kawasan terbuka yang kini berubah menjadi kawasan tertutup (tempat hunian).  Sejak membludaknya arus urbanisasi itu, pendangkalan Ciliwung dan sungai-sungai kecil lainnya terus terjadi tanpa diimbangi pengerukan lumpur yang layak. Pada 1960-an, misalnya saja, sejumlah sungai kecil masih bisa dilayari perahu dari luar kota. Waktu itu kedalaman sungai mencapai tiga meter. Namun kini kedalaman air tidak mencapai satu meter.

Sayang, semakin derasnya arus urbanisasi ke Jakarta, kondisi Ciliwung semakin amburadul. Banyaknya permukiman kumuh di Jakarta menyebabkan Ciliwung beralih fungsi menjadi “tempat pembuangan sampah dan tinja terpanjang di dunia”.  Banjir besar mulai melanda Jakarta pada 1932, yang merupakan siklus 25 tahunan. Penyebab banjir adalah turun hujan sepanjang malam pada 9 Januari. Hampir seluruh kota tergenang. Di Jalan Sabang, sebagai daerah yang nomor satu paling parah, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Banyak warga tidak bisa keluar rumah, kecuali mereka yang beruntung memiliki perahu (Jakarta Tempo Doeloe, 1989).(Djulianto Susantio)


Ujung dan awal dari sebuah perjuangan

February 4, 2010

Masih ingat saat tahun 2002 – 2004, aku hampir tiap minggu cek dan cari info untuk program beasiswa untuk lanjut sekolah.  Ya…memang sejak lulus s-1 dari kampus Ganesha, semangat menggebu untuk lanjut sekolah hampir menutupi keinginan untuk jadi seorang pegawai atau karyawan.

Alhamdulillah, setelah terlebih dulu bergabung di sebuah lembaga penelitian, akhirnya tahun 2004 keinginan untuk lanjut itu mulai tergambarkan, tidak saja s-2 bahkan saat bertemu sensei, langsung dapat tawaran sampai tuntas s-3.  Maha Kuasanya Allah, jika Dia sudah memberikan jalan, tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkah hamba-Nya ini.

Alhamdulillah, malam ini aku sudah menyelesaikan draft untuk disertasi s-3 yang akan di jilid besok.  Seminggu yang lalu, terlewati sudah ujian sidang akhir yang selama ini dinantikan.  Memang, hasil sidang tidaklah penting dibanding perjalanan panjang selama menempuh studi.  Memang itu yang lebih dihargai di negeri sakura ini, lebih menghargai sebuah proses daripada hasil ujungnya.  Proses akan bisa menempa seseorang lulus/tidaknya dalam menjalani tugas dan beban yang selalu ada.

Alhamdulillah, malam ini juga, saat aku pulang dengan hati lega ditengah udara dingin yang menusuk, salju putih nan lembut turun dengan indahnya untuk pertama kali di kota yang aku akan rindukan kelak.  Terima kasih ya Allah, terima kasih atas limpahan nikmat yang tidak pernah putus-putus dari-Mu.  Aku tidak tahu lagi berapa banyak kebesaran nikmat-Mu yang sudah aku pakai, termasuk nafas kehidupan ini. 

Satu hal yang ada didepan mataku ini yaitu ingin segera bertemu dan sungkem pada ibu-bapak.  Mudah-mudahan Engkau masih memberikan kesempatan buatku berbuat banyak lagi untuk orang tua-ku dan umumnya masyarakat di sekitarku.

Tsukuba, 3 Februari 2010


Semangat Berprestasi China, Jepang dan Korea Selatan

October 27, 2009

Minggu, 25 Oktober 2009.  Jakarta (ANTARA News) – Olimpiade Beijing pada 8 – 24 Agustus 2008 dan disusul perayaan 60 tahun didirikannya China baru, 1 Oktober 2009, tampak berlangsung spektakuler sekaligus penuh keberhasilan memperlihatkan kemajuan di Negeri Tirai Bambu. Apa yang menjiwai semangat bangsa China mulai dari persiapan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur fisik yang berbekal teknologi informasi modern yang demikian hebat itu? Dedikasi yang demikian tinggi bukan karena hanya untuk show, tapi untuk menunjukkan bahwa bangsa China memiliki elan vital luar biasa.

Selain China, SDM negara tetangganya, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) sebagai negara kawasan Asia dengan semangat tinggi untuk berprestasi patut pula diacungi jempol. Semangat SDM ketiga negara tersebut senantiasa menjiwai budaya produktivitas. Apakah budaya produktivitas bukti sejarah dan dengan sendirnya atau melalui pendidikan formal dalam masyarakat (society education)? Ada baiknya ditelaah beberapa unsur budaya yang menarik dari ketiga negara tersebut.

China,jauh-jauh hari sebelum persiapan Olimpiade 2008 sampai dengan penyelenggaraan hari ulang tahun ke-60 China baru, dan hal tersebut dapat terpantau secara gamblang dalam berbagai siaran media elektronik dan media pers. Terungkap sikap dan sifat rajin dan tidak kenal lelah dalam mencari pengetahuan dan ketrampilan, sehari hari maupun melalui penelitian (research ). dasar budaya kekeluargaan: 1) kewajiban menjunjung tinggi nama keluarga, 2) menerima disiplin kerja, 3) ketakutan berada dalam suasana tidak nyaman (fear of insecurity) memasuki masa depan, 4) orientasi mengelompok, awalnya fungsional dan dengan kemajuan sarana komunikasi termasuk teknologi informasi menjadi lintas fungsional, 5) menumbuhkan jaringan kerja yang saling mendukung dan saling menguntungkan atas dasar saling percaya dengan menjunjung tinggi tata krama dan etika. Berprestasi dulu, kemudian penghargaan menyusul. Dalam sejarah bangsa China terhitung bangsa tidak banyak tuntutan hasil prestasi, baik di tingkat bawah maupun eselon menngah sampai ke puncak pimpinan. Bonus akan mengalir bagi prestasi prima. Umumnya mereka tidak cepat lelah (tireless workers). Sejak tahun 1980an dengan kebijakan terbuka dan reformasi (gaige kaifang), bangsa China mengejar ketinggalan mereka dengan semangat kerja, dalam banyak situasi dan kondisi bekerja dalam semangat berkelompok (group orientation).

Sama dengan dasarnya bangsa Jepang dan Korea, bekerja keras untuk kepentingan dan kesejahteraankelopok termasuk individual, demi peningkatan kesejhateraan keluarga termasuk harmoni dengan sekelilingnya. Ajaran Konfusius yang pernah dihambat dalam eranya Mao Zedong (1949-1976), sejak 1980an kembali dengan semangat baru yang melandasi etos kerja dan etika China. Bekerja keras, tidak hanya karena mereka dididik untuk menghargai kerja keras, tetapi demi penningkatan kekayaan dan derajat sosial (social esteem).

Keberhasilan melalui kerja keras, sekalipun mengalami kegagalan, untuk menghargai jerih payah leluhur mereka. Sementara itu, masyarakat Jepang memiliki jiwa atau semangat makoto (bersungguh-sungguh) dengan menjunjung tinggi kemurnian batin dan motivasi, serta menolak adanya tujuan berkaryanya semata-mata demi menonjolkan kepentingan diri sendiri. Ada yang menyebut bermental samurai sebagai keteguhan hati untuk mencapai sesuatu tujuan dalam bertindak yang pantang menyerah, karena sebelum menghunus samurai sudah dipikirkan matang. Satu hal pasti adalah bahwa baru beberapa gelintir pengamat dan pebisnis di Indonesia yang pernah mengamati juga etos kerja dengan landasan etika menyerap beberapa ungkapan diajarkan oleh biarawan Zen, Suzuki Shosan (1579-1655). Kalau ditarik ke masa depan, maka hal yang menarik adalah bahwa Zen Buddhisme mempunyai dampak dalam masyarakat Jepang sampai dewasa ini. Hal ini pula yang sepatutnya berkembang di Indonesia yang memiliki banyak nilai keluhuran dari kearifan budaya lokal. Suzuki Shosan menganggap keserakahan yang disebut Weber sebagai “pengejaran kekayaan” sebagai racun rohani, meskipun pada saat yang sama “pekerjaan merupakan praktek Buddhis”. Melalui berkarya manusia mampu mencapai kebudhaan”. Ia memandang pekerjaan duniawi sebagai bentuk asketisme atau laku tapa. Setelah itu dalam era Tokugawa, Meiji terungkap unsur humanisme yang menjiwai etos kerja yang dijiwai semangat makoto dan hingga kini. Orang Jepang seabad lalu tidak pernah bersentukan dengan aliran etika Protestan, yang menurut Max Weber merupakan cikal bakal etika kapitalisme. Masyarakat Jepang tanpa memahami Injil Kristen telah mengembangkan sistem kapitalisme sendiri dan kenyataan ini meskipun jiwa kapitalisme Jepang berbeda dengan Barat. Banyak peneliti Asia luar Jepang, termasuk Indonesia baru belakangan ini menyadari semangat Jepang yang menjiwai kapitalisme di Jepang yang dikenal sebagai kapitalisme humanistik.

Bagi bangsa Korea dengan semangat etos kerja hahn merupakan keunikan tersendiri. Semangat itu mengungkapkan suatu daya psikologis (psychic force). Boye De Mente (peneliti masyarakat Asia Timur tahun 1990an) menyebut hahn merupakan suatu energi yang menggerakkan hasrat berpendidikan, bekerja dengan tekad tak kenal menyerah, berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki disiplin dan yang sekalipun mencurahkan dana dan daya, serta waktu tetap mengorbankan diri untuk peningkatan mutu kehidupan dan penghidupan keluarga dan negara. Perilaku dasar dan karakter (basic conduct and character) orang Korea itu dapat ditelusuri dalam dasar dasar dan ajaran Konfusius yang meraspi budaya negara secara sosial dan politis sejak enam abad lalu . Walaupun pengaruh Barat dalam hal ini Amerika Serikat (AS) sejak 1950an, pada budaya Korsel tampak di daerah perkotaan, namun tetap jiwa perilaku dan sikap dasar di luar kota kota atau daerah pedesaan masih terjaga. Tetap adanya respek pada yang lebih memiliki wewenang, yang lebih tua dan yang terpelajar (respect for authority, aged and the learned). Keluarga tetap dijaga dengan sikap harmoni. Tetap menjaga etika: sikap jujur, memegang janji, dan menghargai waktu pihak ketiga. Etos kerja bangsa Korea memunculkan produktivitas dalam karya. Ini bukan berarti tidak ada kekecualian. Sama seperti setiap bangsa juga, ada saja manusia Korea yang memunculkan kelemahan dalam sikap moral, meskipun umumnya bangsa Korea dengan jiwa ‘hahn’ berusaha menjaga identittas diri sebagai bangsa terhormat.

Masyarakat bisnis dan organisasi kemasyarakatan kita terutama tingkatan kelas menengah (middle class) yang dalam organisasi SDM (sumber daya manusia) eselon manajemen menengah sebagai penggerak, perlu mulai menyadari dan memahami sisi positif etos kerja sumber daya manusia China, Jepang, Korsel yang menjiwai budaya produktivitas tinggi mereka. Hal itulah yang agaknya sangat berarti bangsa Indonesia yang kini memasuki babak pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Bagi generasi muda Indonesia, semangat yang menjiwai bangsa China, Jepang dan Korsel juga dapat ditelaah dengan mengangkat kearifan lokal dalam abad Asia (abad 21), dengan kata lain mau mulai belajar dari “Utara”, yakni Asia Timur, dalam menggali sekaligus mengamati perilaku, ketrampilan dan pengetahuan, untuk mampu berprestasi lebih bermutu, serta tidak melulu dari Barat/Amerika Serikat dan Eropa. (*)

Oleh Bob Widyahartono


Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang

September 17, 2009

Kamis, 17 September 2009

Jafar M Sidik

Cianjur (ANTARA News) – Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat. “Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu kepada ANTARA, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur. Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan. Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun. Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba. Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara. Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.

Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara. Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na. Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba. “Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang. Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno. Poligonal Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan. Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus. Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri. Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering. Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit. Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu. Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang. “Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya. Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir. Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang. Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin. Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914. Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber. Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung. Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)


Penanganan Perubahan Iklim

July 11, 2009

Jakarta (ANTARA News) – Inisiatif pendanaan untuk penanggulangan perubahan iklim semakin bertambah menyusul meningkatnya kesadaran akan pentingnya isu perubahan iklim dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G8 di L`Aquila, Italia. “Ada beberapa inisiatif untuk pendanaan upaya penanggulangan perubahan iklim seperti green fund yang diusulkan Meksiko dan berbagai proposal lain untuk menciptakan pasar untuk emisi karbon, di samping peningkatan pendanaan dari donor maupun anggaran masing-masing negara,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar saat telekonferens langsung dari L`Aquila dengan wartawan di Jakarta, Jumat.

Masalah perubahan iklim masuk dalam pembahasan sesi kedua dalam KTT G8 yang berlangsung di L`Aquila, Italia sejak 8-10 Juli 2009. Pada sesi tersebut disepakati deklarasi bersama untuk meningkatkan investasi serta koordinasi dalam melakukan riset dan pengembangan teknologi ramah lingkungan pada 2015 hingga dua kali lipat. Selain itu, dalam forum G8 juga disepakati pemotongan emisi sebesar 80 persen untuk negara maju dan 50 persen untuk negara berkembang pada 2050 yang diharapkan dapat mencegah kenaikan suhu dunia melebihi ambang bahaya dua derajat celcius. “Di samping itu juga telah disepakati agar negara berkembang dapat tetap tumbuh dan mendapat akses dana serta teknologi untuk mitigasi emisi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim,”ujar Rachmat.

Pada kesempatan itu, Presiden Obama yang mengetuai diskusi sesi perubahan iklim menyimpulkan pentingnya isu pendanaan dan teknologi untuk negara berkembang dan inisiatif spesifik dengan swasta seperti Green Fund dan pasar karbon yang efisien. Kesimpulan lainnya yang diambil adalah bahwa perubahan iklim telah berdampak pada kemiskinan sehingga perlu perhatian khusus dan cepat sehingga keputusan-keputusan konkrit perlu diambil oleh para kepala negara pada pertemuan selanjutnya termasuk pertemuan G20 bulan September 2009. “Sebelum itu (September) diharapkan para kepala negara dapat membahas isu-isu spesifik dan mendorong secara politis fleksibilitas yang diperlukan sehingga dapat diselesaikan menjelang UNFCCC di Kopenhagen,”tutur Rachmat. Selain isu perubahan iklim juga dibahas isu keamanan pangan dan energi. Pertemuan G8 tersebut diharapkan dapat mendorong tindak lanjut solusi permasalahan global dengan langkah-langkah, program dan pendanaan yang konkrit. Presiden Obama telah mensinyalir adanya dana sekitar 15 miliar dolar AS untuk membiayai berbagai program penanggulangan masalah keamanan pangan dan energi dunia.


Belajar Bahasa Indonesia

May 17, 2009

Kejadian ini sebenarnya sudah lama, sekitar bulan Maret – April.  Saat itu saya mendapat pengalaman untuk mengajar Bahasa Indonesia untuk orang Jepang yang akan bertugas di Indonesia (tugas dari kantornya yang mempunyai cabang di Indonesia).

Meskipun hanya sebentar tetapi ada yang menarik dari pengalaman ini.  Ternyata selama ini sebagai warga Indonesia, saya tidak begitu tahu detail tentang Bahasa sendiri, yang tentunya bahasa yang baku dan benar, yang sesuai Tata Bahasa Indonesia yang Baku.  Kalau sudah begini, ingatnya pada sosok JS. Badudu.

Ya…..ternyata bagi orang Jepang yang baru belajar, dia ingin alasan-alasan kenapa ini seperti ini dan kenapa jadi begini……contoh kecilnya, kapan kita membedakan cara baca huruf “e” dalam mengucapkan “belajar” dan “bebek”  Dari pertanyaan kecil ini saja bisa buat saya sibuk sendiri cari-cari jawabannya hehehe….

Dari semuanya itu, yang bisa saya tangkap dari cara belajarnya orang Jepang, mereka sangat serius/memegang teguh aturan-aturan baku-nya. dan berusaha untuk menguasainya.  Ini bisa dilihat saat orang Jepang menggunakan bahasa asing (Inggris misalnya…), secara grammar/aturannya, tulisan mereka sangat baik/baku waluapun dalan praktek percakapan tidak terlalu lancar.

Kita sering lupakan aturan dasar/basic dan ingin cepet langsung ke point ujungnya.  Padahal dari basic itu lah merupakan kunci untuk mengembangkan dan mencapai kesuksesan yang jauh lebih tinggi.

Terakhir, jangan lupa pelajari, praktekan dan berbanggalah menggunakan bahasa Indonesia.

-LS


Indonesia Negeri Ijazah

January 1, 2009

Oleh A Jo Seng Bie

Jakarta (ANTARA News) – Baharuddin (42) memprotes keras kerani atau mandor di perkebunan sawit Semenanjung Malaysia karena menyebutnya pendatang haram.

“Saya marah kepada kerani. Saya katakan, saya muslim. Mana mungkin muslim haram,” seru Baharuddin di kedai nasi padang kelolaan bersama istrinya dalam kompleks perumahan kaum marjinal kota, di Baloi Kebun, Batam, Kamis (25/12-08).

Beberapa perkebunan kelapa sawit di Selancar III (Pahang), Kota Tinggi dan Segamat dan perusahaan gudang di Pasir Putih (Johor Bahru) adalah tempatnya mencari ringgit selama 1984-1994, diselingi enam bulan mengumpulkan baht selaku buruh traktor sawah di Thailand.

Ia bekerja bertahun-tahun di negeri rantau hanya berbekal kartu penduduk Tanjungpinang, dan karenanya menjadi mangsa aparat Malaysia yang menangkapi pekerja asing tanpa izin atau pekerja asing degil (bandel).

Tahun 1996, Bahar, demikian ia biasa dipanggil, pulang kampung ke Tanjungpinang setelah merasakan betapa pedihnya dua cambukan rotan dan dua tahun penjara di Malaysia.

“Selepas dari penjara, saya masih ditahan satu tahun di Imigrasi Malaysia,” kata Bahar yang setibanya di Batam membeli bangunan rumah di Baloi Kebun seharga Rp3 juta dan mengusahakan warung yang dimodali adik iparnya.

Menurut ayah dua anak itu, bekerja di Malaysia sangat mudah. Di sana, orang tidak ditanya ijazah ketika melamar ke pabrik atau perkebunan.

“Di Malaysia, yang terpenting adalah skill (keterampilan), bukan ijazah,” ujar Bahar yang putus sekolah sejak kelas empat SD di Tanjungpinang, kota kelahirannya.

Selain sebagai operator fork lift, di negeri itu, Baharuddin pernah menjadi pengemudi truk gandeng. Keterampilan itu didapatnya dari teman-teman pekerja dari Indonesia.

Ketika melamar pekerjaan, Bahar hanya ditanya bisa apa, lalu diuji.

Untuk menjadi pengemudi truk gandeng, misalnya, ujian pertama adalah “Coba kamu start engine (hidupkan mesin).”

Kalau pelamar langsung memutar kunci kontak truk gandeng, dijamin lamarannya langsung ditolak. Seharusnya, ia memeriksa terlebih dulu keadaan minyak hitam (oli) dan mesin.

Lulus dari ujian pertama, pelamar harus menjalankan truk gandeng ke arah belakang kira-kira 50an meter. Harus bisa memundurkan kendaraan dengan lurus. Kalau mampu, pekerjaan baru sudah di tangan.

Lain di Malaysia, lain di negerinya. Lamarannya ke beberapa perusahaan di kota kelahirannya tak membuahkan hasil, hanya karena tak berijazah. Ia akhirnya hanya bisa menjadi pengojek.

Mulai 2005, Bahar bersama Ardiati, istrinya, hijrah, mengadu nasib di Kota Batam yang ternyata juga menuntut selembar ijazah kepada pelamar pekerjaan formal.

“Di sini pun sama.  Waktu melamar yang ditanya adalah ijazah. Indonesia, negeri ijazah,” keluh Bahar.

Ia lalu berandai-andai, jika saja ijazah bukan yang utama di negerinya, pastilah orang pandai mengemudi truk gandeng seperti dirinya atau teman-temannya yang terampil mengelas, yang mendapat pekerjaan.  (*)


Sudah tahun kedua

July 19, 2008

Tidak terasa waktu berjalan cepat sekali, tinggal kurang lebih 1.5 tahun lagi saya harus menyelesaikan program doktor di Tsukuba University. Haik….ganbarimashou..!!!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.