Indonesia Butuh 460 Waduk

November 13, 2014
Koran Sindo
Senin,  10 November 2014

JAKARTA – Indonesia membutuhkan 460 waduk setara waduk Jatiluhur dalam pemanfaatan sumber air. Mengacu pada data 2012, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, daya tampung air yang ada saat ini hanya mencapai 54 meter kubik per kapita per tahun atau jauh dari kebutuhan ideal 1.975 meter kubik per kapita per tahun. “Itu berarti kita membutuhkan 460 waduk untuk memenuhi angka 1.975 meter kubik per kapita per tahun atau mencapai kebutuhan ideal. Sementara, proyek-proyek pembangunan waduk itu rata-rata lima hingga enam waduk per tahunnya,” kata Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Supriadi Priatna di Jakarta akhir pekan lalu. Dia mengatakan, saat ini untuk membangun satu waduk dibutuhkan anggaran sekitar Rp5-6 triliun. Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah berencana melibatkan BUMN dalam pembangunan waduk melalui skema bantuan berupa jaminan dari pemerintah. Hal itu dilakukan mengingat keterbatasan anggaran pemerintah. “Kalau di China, waduk itu dibangun oleh pemerintah, sebesar apa pun anggarannya. Namun kalau di Indonesia, tidak bisa demikian. Makanya, pemerintah harus bisa memanfaatkan BUMN,” ujar dia.

Pelibatan BUMN mengingat proyek-proyek untuk pembangunan waduk kurang diminati swasta. Sementara jika pemerintah mengucurkan anggaran untuk pembangunan waduk, dibutuhkan anggaran yang besar dan bersifat multiyears . “Hambatan lain dalam proyek multiyears biasanya terletak pada faktor politik. Ini proyek jangka panjang dengan jaminan dari pemerintah. Contohnya di proyek tol Sumatera, saya kira untuk membangun waduk bisa dilakukan seperti apa yang terjadi dalam konsep proyek tol Sumatera,” jelasnya. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA) Basuki Hadimuljono mengatakan, makin banyak waduk yang dibangun semakin baik untuk cadangan air untuk mengatasi kekeringan. “Waduk harus terus dibangun mengingat daya tampung air kita masih lebih besar yang terbuang ke laut. Saya ditargetkan minimal bangun lima waduk per tahun, dengan anggaran dari APBN,” ucap dia. Dia menjelaskan lima waduk yang ditender tersebut antara lain di Aceh, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Kelima waduk tersebut ditargetkan bisa di groundbreaking pada Januari 2015. Selanjutnya, pada 2015 pemerintah akan kembali menargetkan pembangunan enam bendungan. “Waduk dan bendungan tersebut menjadi program prioritas. Sehingga, akan menjadi program utama di Kementerian PU-PERA dengan total anggaran seluruhnya, lima waduk dan enam bendungan, mencapai Rp8,2 triliun,” katanya.

Ichsan amin


Jangtaesan Recreational Forest

November 3, 2014

Located at the height of only 186 meters and in the midst of other mountains, Mt. Jangsan in Jangan-dong, Seo-gu, is more like a hill. Accommodations, amenities and an exercise area have been developed in this recreational forest.
Jangtaesan Forest is the first recreation forest built by the private fund in South Korea. The recreation area features a promenade, a therapeutic forest walk, sporting equipment, and a botanical garden.

??????????????????????

Picture by LS


Bibimbab festival 2014

October 26, 2014

Jeonju Hanok village is a famous location for traditional Korean houses and hometown of bibimbap (Korean food). It also has been selected as UNESCO City of Gastronomy and full of the atmosphere of Korean traditional houses. Every year, the Jeonju bibimbap festival is always held.

?????????????????????? ??????????????????????

It is an interesting event :)  -(Pictures by LS)


Daejeon City

October 26, 2014

Daejeon is South Korea‘s fifth largest metropolis  Located in the center of South Korea, Daejeon serves as a hub of transportation and is at the crossroads of major transport routes.

Daejeon has 18 universities including KAIST, Chungnam National University, Hanbat National University, Hannam University and UST (Korea University of Science and Technology). Daejeon has earned its name as “Asia’s Silicon Valley” and “High technology city”.  The city hosted the Taejon Expo ’93 and the International Mathematical Olympiads (IMO) in 2000. Several important research institutes are based in the city.

 

???????????????????????????????

Daedeok Innopolis (Daedeok Research and Development Special Zone) is composed of 28 state-run research centers as well as 79 private research institutes with as many as 20,000 researchers. In addition, Daejeon established the WTA (World Technopolis Association) in 1998 with the view of realizing regional development through international cooperation with world science cities. Currently the WTA has grown to have 67 members from 32 countries, and it actively cooperates with many international organizations including UNESCO as its official consultative body (Source : wikipedia)

Picture by LS


Distamben Kalsel kembangkan eceng gondok menjadi biogas

September 10, 2014
Selasa, 9 September 2014 22:41 WIB | 2.446 Views
Distamben Kalsel kembangkan eceng gondok menjadi biogas

Enceng Gondok. Dua buah perahu menelusuri sungai yang penuh ditumbuhi eceng gondok di sungai Jenne Berang Makassar, Jumat (26/6). Para nelayan dan penambang pasir di sungai Jenne Berang mengeluhkan eceng gondok tumbuh hampir menutupi sungai, keadaan ini menyulitkan para nelayan dan penambang yang harus menempuh jarak ke lokasi penambangan pasir sejauh 5 km dalam waktu 3 jam dari normalnya cuma 1/2 jam. (ANTARA/SAHRUL MANDA TIKUPADANG)
Banjarmasin (ANTARA News) – Dinas Pertambangan Provinsi Kalimantan Selatan mengembangkan tanaman eceng gondok menjadi bahan bakar biogas untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di beberapa daerah terpencil yang tersebar di beberapa daerah di provinsi ini.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Kustono Widodo di Banjarmasin, Selasa mengatakan, pada 2014 ini pihaknya berencana membangun instalasi biogas eceng gondok di dua kabupaten.
Dua kabupaten yang bakal mendapatkan proyek pengembangan instalasi biogas eceng gondok tersebut yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak satu unit untuk sepuluh kepala keluarga dan satu unit di Kabupaten Hulu Sungai Tengah juga untuk sepuluh kepala keluarga.
“Hampir seluruh wilayah di Kalsel memiliki tumbuhan eceng gondok yang melimpah, sehingga perlu upaya terus menerus untuk mengembangkan tumbuhan yang kini banyak menutup sungai di daerah ini,” katanya.

Diharapkan, melalui pengembangan tersebut potensi sumber daya yang selama ini terkesan menganggu, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan seluruh warga Kalsel.  Menurut Kustono, saat ini pihaknya terus berupaya mengembangkan energi listrik terbarukan, yang tidak hanya tertumpu pada minyak ataupun batu bara, tetapi potensi alam lainnya yang masih cukup besar, baik itu tenaga surya, tenaga air, angin dan tumbuhan lainnya.

Berdasarkan data dinas pertambangan, pembangunan instalasi biogas pertambangan dan energi provinsi Kalsel tahun 2007-2014 yaitu di Kabupaten Tabalong sebanyak 34 unit, Balangan 41 unit, Hulu Sungai Tengah, 13 unit.  Selanjutnya, Tanah Laut 122 unit, Tapin, 25 unit, Hulu Sungai Selatan 50 unit, Barito Kuala 70 unit, Tanah Bumbu 40 unit, Kotabaru, 50 unit dan Kabupaten Banjar, lima unit.

Selain itu, pada 2014 ini juga telah diprogramkan bantuan listrik hemat dan murah untuk Provinsi Kalsel dari Kementerian ESDM dengan total 2.360 unit.  Bantuan tersebut akan diberikan kepada enam kabupaten masing-masing yaitu Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebanyak 200 unit, Kabupaten Banjar 1.259 unit, Hulu Sungai Utara sebanyak 1/182 unit, Tanah Laut, 1.471 unit. Selanjutnya, Kabupaten Tanah Bumbu 402 unit, dan Kotabru sebanyak 1.776 unit.

Pemerintah dan PT PLN, kini juga terus mendorong pemenuhan sumber energi listrik melalui cangkang sawit, untuk memenuhi kebutuhan listrik daerah terpencil.  Hingga kini, ratio elektrifikasi (RE) Kalsel hingga Mei 2014 telah mencapai 82,1 persen atau lebih tinggi dibanding ratio elektrifikasi (RE) Nasional 80,4 persen.   Sedangkan untuk ratio desa berlistrik (RD) Kalsel telah mencapai 95,5 persen jauh lebih tinggi dibandingkan ratio desa berlistrik (RD) nasional sebanyak 70 persen.
Jumlah Desa Kalsel sebanyak 1.998 desa dan jumlah desa sudah berlistrik sebanyak 1.908 desa, sehingga jumlah desa yang belum berlistrik tinggal 90 desa. (*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2014


Survey at Jatiluhur Reservoir – West Java, Indonesia

August 3, 2014

On July 14 – 16, 2014, Research Centre for Limnology and University of Tsukuba have conducted survey for water quality at Jatiluhur reservoir in frame of Collaboration between them.  This survey as a continuation from previous survey at Saguling reservoir on July 2012.  We also discussed many points with institute, including the Director gave

??????????????????????????????? ?????????????????????????????????????????????????????????????? ???????????????????????????????


Collaboration Activities : Limnology – LIPI, Biology – USM and Remote sensing – University of Tsukuba

July 13, 2014

On March 2014, Research Centre for Limnology held the joint research at several lakes (Lake Maninjau, Lake Singkarak and Lake Toba). Previously, Limnology – LIPI and Universiti Sains Malaysia (USM) signed the MoU document by both directors, Dr Tri Widianto (Limnologi LIPI) and Associate Professor Dr. Ahmad Sofiman with was attended by Deputy of Earth Sciences – LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain.

Mou USM-LIPI

Next schedule, University of Tsukuba joined in the field : visiting our station at Lake Maninjau and survey at lake Singkarak. Three teams were involved in this survey : Limnology LIPI, Biology – USM and Remote sensing – University of Tsukuba.

SLAT Maninjau

The last, Limnology LIPI and University of Tsukuba conducted survey continued at Lake Toba

???????????????????????????????


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.