Oleh Alex Pangestu | 04-03-2011 |


Banjarmasin (ANTARA News) – Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan Kalimantan cocok bagi pengembangan energi nuklir karena karakteristiknya yang bebas dari gempa dibandingkan Jawa. Meskipun pola pikir masyarakat belum bisa menerima pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Ada dua wilayah di Kalimantan yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang siap mengembangkan energi tersebut, namun kini Kementerian Ristek masih fokus mengembangkan energi nuklir di Sumatera, kata Menristek dalam dialog interaktif dengan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan para peneliti dari lembaga Litbang regional Kalimantan Jumat.
Pernyataan sama disampaikan Kepala Batan Hadi Hustowo bahwa stigma negatif masyarakat terhadap pengembangan energi nuklir hingga kini masih sulit untuk dihapuskan. Pengembangan energi murah itu kini belum bisa dilaksanakan secara maksimal, padahal energi tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan bukan hanya untuk listrik tetapi juga untuk rumah sakit dan pertanian. Di Kalsel kata dia, sudah dua instansi yang memanfaatkan energi tersebut yaitu RSUD Ulin Banjarmasin dan di pabrik pakan ternak Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Pemanfaatan energi pada dua lokasi di Kalsel tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Batan. Lebih lanjut Hatta mengatakan Indonesia mendesak untuk memulai mengembangkan energi nuklir guna memenuhi berbagai kebutuhan energi dan pengembangan sumber daya pangan. “Kalau masyarakat bersedia dan bisa menerima kita harus memulai mengembangkan energi nuklir sebelum sumber daya alam seperti batu bara dan lainnya habis,” katanya. Menurut dia, saat ini pihaknya sangat sulit untuk mengubah stigma masyarakat tentang nuklir sehingga sulit untuk mengembangkan teknologi nuklir yang sebenarnya jauh lebih murah dibanding energi lainnya. Masyarakat, kata Hatta, masih berpikiran bahwa energi nuklir hanya bisa dimanfaatkan untuk melakukan pengeboman seperti yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki serta yang terakhir di Fukushima Jepang yang terkena tsunami. Katanya nuklir memiliki manfaat yang cukup luas, mencakup pengembangan energi listrik dan peningkatan sektor pangan, misalnya pengembangan bibit padi unggul. “Makanya kalau masyarakat bisa menerima, saat sekarang waktunya mengembangkan energi tersebut, jangan sampai terlambat bila terlambat bisa diibaratkan orang yang ingin buang air besar tetapi keluar di celana,” kata Gusti disambut gelak tawa peserta. (ANT)
Rabu, 7 Desember 2011
Gorontalo (ANTARA News) – Hujan yang turun selama beberapa hari terakhir mengakibatkan rumah-rumah warga di kawasan Danau Limboto, Gorontalo mulai kebanjiran.
Berdasarkan pantauan di Gorontalo, Rabu, wilayah Danau Limboto yang mulai terendam banjir yakni Desa Tualango, Dulomo, Tilote, Tabumela, Ilotidea, dan Bungalo, Kabupaten Gorontalo. Air juga menggenang di beberapa bagian u Kelurahan Lekobalo dan Dembe, Kota Gorontalo.
Sejumlah warga setempat mengatakan, banjir yang merendam rumah mereka karena danau itu tidak bisa lagi menampung air yang berasal dari sungai di daerah tersebut.
“Kolam Danau Limboto sudah dangkal sehingga tidak bisa lagi menampung debit air yang begitu banyak,” kata seorang warga Desa Tualango, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, di sekitar danau itu Rustam.
Dia menjelaskan, sejak Selasa (6/12) sore rumah warga setempat mulai kebanjiran, setelah hujan mengguyur selama beberapa hari terakhir. Seorang warga setempat lainnya Adam mengatakan, sudah menjadi kebiasaan jika hujan turun selama beberapa hari, kawasan tersebut kebanjiran dari Danau Limboto.
Jika banjir terus menerjang wilayah tersebut, katanya, ketinggian air bisa mencapai satu hingga 1,5 meter.
Editor: Aditia Maruli
Bandung (ANTARA News) – Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengatakan Indonesia sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) 2011 terus mempromosikan konsep ekonomi hijau dan energi hijau di tatanan regional. “Sebagai negara yang sudah berkali-kali menjadi Ketua ASEAN ,kita selalu membuat inisiatif baru, termasuk di bidang lingkungan hidup,” kata M. Hatta dalam jumpa pers acara Konferensi Internasional TUNZA di Gedung Merdeka, Bandung, Sabtu. Menteri Gusti Muhammad Hatta mengatakan pihaknya telah menyiapkan rancangan pernyataan bersama para pemimpin ASEAN terkait perubahan iklim, yang menunjukkan komitmen bersama ASEAN dalam Konvensi Kerangka Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (UNFCC).
“Kita sudah menyiapkan “joint statement” untuk para pemimpin ASEAN di UNFCC mendatang. Sebentar lagi akan dikirimkan ke para menteri lingkungan hidup se-ASEAN, jika mereka setuju maka drafnya bisa diserahkan kepada presiden,” kata Gusti. Selain itu, dalam Konferensi Internasional Anak dan Remaja TUNZA tentang lingkungan yang dihadiri oleh 1.200 anak dan pemuda dari 108 negara, untuk pertama kalinya digagas lomba debat antarnegara ASEAN. (SDP-10)
Jumat, 22 Juli 2011.Kupang (ANTARA News) – Provinsi Nusa Tenggara Timur memerlukan 2.700 embung atau kolam besar penampungan air untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat setempat, sementara yang tersedia baru 425 embung.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Andre Koreh, di Kupang, Jumat, mengatakan, saat ini terdapat 4.679.316 jiwa sehingga membutuhkan air bersih 4,8 miliar meter kubik sebulan. Namun, sumber air baku yang dimiliki oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih minim sehingga hanya bisa memasok 354 juta meter kubik setiap bulan, atau 136 meter/detik.
“Dengan demikian pemenuhan air bersih bagi masyarakat dalam setahun hanya 2,82 miliar meter kubik,” kata dia.
Koreh mengatakan, ketersediaan sarana dan prasarana sumber daya air saat ini juga belum mampu memenuhi kebutuhan sektor pertanian. Menurut dia, areal irigasi potensial di NTT mencapai seluas 295.262 hektare, tapi yang sudah berfungsi hanya seluas 126.168 hektare, meliputi irigasi teknis seluas 28.362 hektare, irigasi sederhana seluas 97/806 hektare.
Karena itu, katanya, pemerintah daerah membangun waduk di Tilong, Kabupaten Kupang, untuk digunakan sebagai sumber air irigasi bagi lahan seluas 1.484 hektare, yang diharapkan bisa meningkatkan indeks pertanaman pada 40 kawasan daerah irigasi. “Kami telah melakukan survei lapangan dan dari waduk itu akan lahir sedikitnya 29 calon waduk suplai irigasi,” kata Andre.
Upaya ini ditempuh pemerintah juga untuk memberikan manfaat kepada sawah tadah hujan milik petani yang luasnya mencapai 63.245 hektare, yang akan mengalami penurunan produktivitas sebagai akibat gagal panen karena kemarau panjang yang sering dialami NTT.
Langkah lain yang ditempuh pemerintah NTT, kata Koreh, adalah mengembangkan sumber air tanah yang saat ini sudah mencapai 1.289 sumur dari rencana pemerintah sebanyak 7.891 sumur. “Dari jumlah sumber air bawah tanah tersebut diharapkan bisa mengaliri sedikitnya 12.541 hektare sawah dan memenuhi kebutuhan air bersih untuk 9.270 kepala keluarga,” kata Koreh. (ANT)
Senin, 16 Mei 2011, Banjarmasin (ANTARA News) – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak 2010 membuat laju abrasi di kawasan pesisir pantai jauh lebih cepat dibanding pada kondisi normal. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Arsyadi di Banjarmasin Senin mengatakan, kerusakan kawasan pantai tahun ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Hal tersebut, kata dia, dipicu kondisi cuaca ekstrem yang mengakibatkan gelombang besar atau lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Saat ini kata dia, diperkirakan 10 persen dari panjang kawasan pantai sepanjang 1.300 kilometer di Kalimantan Selatan, mengalami kerusakan akibat abrasi. Abrasi cukup parah, kata dia, terjadi antara lain di kawasan Pantai Takisung Kabupaten Tanah Laut dan Sungai Loban yang masuk wilayah Tanahbumbu.
Mengatasi kerusakan agar tidak semakin meluas, kata dia, pihaknya sedang mengusahakan untuk menahan hempasan gelombang tersebut dengan membangun bronjong di sepanjang kawasan pesisir pantai. “Sayangnya, alokasi dana untuk pembangunan bronjong tersebut masih cukup minim sehingga kerusakan tidak sebanding dengan alokasi dana pemerintah pusat maupun daerah,” katanya. Dengan demikian, kata dia, upaya perbaikan yang bisa dilaksanakan relatif kecil sementara areal yang terkena abrasi makin besar.
Menurut dia, karena keterbatasan dana tersebut pada 2011 pembangunan bronjong dengan batu dan kawat di pantai Takisung Kabupaten Tanah Laut hanya bisa dilaksanakan sekitar 10 kilometer. Begitu juga dengan pantai di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu yang mengalami kerusakan cukup parah seperti di Sunagi Loban dan sekitarnya. “Bahkan abrasi di Sungai Loban kini telah sampai ke jalan umum,” katanya.
Menurut Arsyadi, abrasi pada sejumlah titik kawasan pantai di Kecamatan Takisung sudah cukup memprihatinkan, hal ini perlu penanganan cepat pihak terkait sebelum berdampak lebih buruk. Sebelumnya, Camat Takisung, Yugo Heru Ahmad mengatakan, abrasi yang terjadi di wilayahnya, sudah terjadi sekitar 2009 lalu dan tidak kurang 100 kepala keluarga harus pindah rumah lantaran terkena dampak gerusan air laut ini.
Menurut dia, upaya pemerintah setempat membuat penahan ombak dengan sistem bronjong belum optimal menahan ombak yang cukup kencang dan tinggi. “Perlu banyak bronjong lagi yang dipasang di pinggiran pantai, apalagi bronjong yang ada sudah hancur diterjang ombak,” katanya. (ANT/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
Adanya kejadian gempa dan Tsunami di jepang kembali mengingatkan pentingnya kesadaran dan kesiapan dalam menghadapi bencana. Gempa bumi dan Tsunami yang terjadi 11 Maret 2011 di wilayah Miyagi dan sekitarnya merupakan bencana gempa dan tsunami terbesar sepanjang sejarah di Jepang.
Berikut ini adalah salinan hasil diskusi pada ”Kulmil PPI Jepang” dan beberapa diskusi lainnya yang mudah-mudahan banyak manfaat dan tambahan pengetahuan buat semuanya.
Bencana (disaster) merupakan akibat (consequence) dari dua komponen, yaitu
“bahaya” (hazard) dan “tingkat risiko” (risk).
Bahaya adalah potensi aksi penyebab bencana, sedangkan tingkat risiko adalah situasi (pada individu, wilayah, komunitas, dsb) yang menentukan kemungkinan tercipta atau tidaknya suatu bencana. Pendekatan perhitungan risiko (risk) adalah fungsi dari “hazard”, dimana variabel ini cenderung tidak bisa dikendalikan , dan juga tingkat kerentanan. Dalam kasus gempa dan tsunami Jepang misalnya, meskipun Jepang telah melakukan prevensi yang bagus, hazard yang muncul ternyata jauh melebihi perkiraan sehingga terciptalah bencana tersebut.
ALARP adalah singkatan dari “as low as reasonably practicable”, ujung bawah adalah “acceptable risk”, sisi atas “unaccepatble risk”, dan di antara keduanya adalah “tolerable risk” [dari Smith & Petley (2009)];
Digambarkan sebagai segitiga terbalik yang ujung runcingnya di bawah, makin ke atas makin lebar; ujung bawah adalah “acceptable risk”, sisi atas “unaccepatble risk”, dan di antara keduanya adalah “tolerable risk” [dari Smith & Petley (2009)];
Ada hubungan antara individual preparedness dengan banyaknya elderly people seperti yang terjadi di Jepang. Didasarkan pada data yang menyatakan bahwa 50% lebih korban adalah manula (>65 tahun)
Salah satu hal yang paling sulit di dalam manajemen bencana adalah menyamakan persepsi tentang “seberapa berbahayanya sebuah bencana” (risk perception). Mungkin semua sepakat bahwa banjir adalah bencana. Tetapi bagi mereka yang tidak punya pilihan, misalnya karena kemiskinan dan harus tinggal di tepi sungai, maka “level bahaya” itu secara sadar mereka turunkan karena pilihan alternatifnya berarti tidak punya tempat tinggal. Bahkan, bagi sebagian masyarakat Bojonegoro di DAS B Solo hilir, banjir (pada level tertentu) membuat mereka panen ikan dan menjadikan sawah mereka subur.
Pembangunan ketahanan dan mengurangi risiko bencana (disaster risk reduction) bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja namun merupakan kombinasi dari kepedulian (awareness) dan kesiapsiagaan (preparedness) dari tiga pihak, yaitu individu, masyarakat dan pemerintah.
Jadi individu, masyarakat dan pemerintah harus dengan sadar mau mengambil peran. Di Jepang usaha bersama dalam membangun ketahanan tersebut diaplikasikan dalam konsep “self-help, mutual support dan public assistance”. Secara umum target dari manajemen bencana ada 3, yaitu tidak ada korban jiwa (zero casuality), kerusakan seminimal mungkin (minimum damage) serta pemulihan situasi secepat mungkin (immediate recovery).
Tindakan mitigasi bencana meliputi tindakan struktural (hard countermeasure) maupun non-struktural (soft countermeasure). Tindakan struktural adalah pembangunan infrastruktur, perlindungan, sedangkan non-struktural adalah tindakan untuk meningkatkan pemahaman semua pemangku kepentingan akan besarnya potensi bahaya, menjaga kepekaan dan kesiapsiagaan agar melakukan tindakan akurat sebelum atau ketika bahaya datang. Hasil survey di Jepang (Ikeda, 2010), ketergantungan pada insfrastruktur perlindungan terbukti menurunkan kepekaan alami manusia untuk melindungi dirinya sendiri.
Faktor utama yang bisa mengurangi bencana (disaster risk reduction), atau sebaliknya (mengakibatkan dampak bencana semakin besar) adalah manusia (Wisner, 2010). Umumnya, manusia, secara individual maupun kelompok, tidak bersungguh-sungguh belajar dari bencana sebelumnya dan kembali mengulangi jalur yang sama menuju bencana yang sama atau bahkan lebih besar.
Perlu ditekankan bahwa kemampuan manajemen bencana oleh pemerintah daerah sangat mendesak untuk ditingkatkan mengingat karakterisitik potensi bahaya dan tingkat risiko khas untuk masing-masing daerah, termasuk juga perilaku social masyarakatnya. Misalnya untuk kasus banjir di Indonesia. Kita sepakat bahwa banjir adalah bencana dan kita tahu salah satu penyebabnya timbulnya banjir adalah lantaran adanya pemukiman-pemukinan di bantaran sungai.
Namun kondisi ekonomi membuat warga yang tinggal di bantaran sungai enggan pindah meski dia tahu itu berbahaya buat dirinya sendiri dan juga membahayakan orang lain. Disisi lain ada pula sebagian masyarakat yang menilai banjir (pada level tertentu) itu bisa mendatangkan keuntungan. Hal semacam itulah yang melandasi anggapan bahwa salah satu poin yang paling sulit diatasi dalam manajemen bencana adalah menyamakan persepsi bahaya (risk perception).
Indoensia sejak terjadi gempa dan Tsunami Aceh 2004, sudah banyak membuat kemajuan yang berarti. Sekarang platform penanggulangan bencana secara nasional sudah mencakup sebelum bencana, ketika bencana, dan setelah bencana.
Bukan hanya emergency, recovery dan rehabilitation, tetapi mencakup mitigasi dan preparedness. UU-nya adalah UU No. 24/2007, diikuti beberapa peraturan pelaksanaan di bawahnya, seperti pembentukan BNPB, BPBD, lalu Rencana aksi nasional, rencana aksi daerah, dst. Tinggal koordinasi antar instansi yang terkait dan keseriusan dalam menjalankannya.
Keselamatan sangat tergantung pada keputusan individu untuk mengambil tindakan pada situasi yang mengancam keselamatan pribadi terletak di tangan diri sendiri. Latihan evakuasi, dan langkah penanggulangan bencana itu hanya acuan saja. Acuan-acuan yang diberikan ini diharapkan bisa membantu kita untuk selamat.
Selain itu, Indonesia sudah memiliki SNI untuk bangunan tahan gempa, Namanya: SNI-1726-2002: Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah Dan Gedung. Ada juga petunjuk pelaksanaan teknisnya utk rumah sederhana” Masing2 daerah memiliki karakteristik bencana yang berbeda dan masing2 perlu implementasi yang khas. Yang diperlukan sekarang adalah “law enforcement” yang ketat, khususnya apabila menyangkut individual property. Hal penting lain adalah bagaimana caranya supaya acuan-acuan semacam ini diketahui masyarakat umum, diseminasi informasi.
Intervensi hasil-hasil riset dalam mitigasi bencana, secara umum diharapkan terkait dengan tiga aspek, yaitu: identifikasi potensi bencana (kapan, dimana, seberapa besar), teknologi perlindungan (kekuatan, material dan bentuk struktur), serta teknologi tanggap darurat (peralatan penyedia air bersih, struktur bangunan instan darurat, sistem komunikasi, sistem informasi dan identifikasi tingkat bencana/GIS, dll).
“One US dollar spent by the United States Federal Emergency Management Agency (FEMA) on hazard mitigation saves an estimated US$ 4 on average in future benefits according to a study of FEMA grants (including for retrofitting, structural mitigation projects, public awareness and education and building codes)” [Benson, Provention Consortium, 2007];
Kutipan di atas adalah salah satu contoh ilustrasi “benefit” secara ekonomi (baca: dampak positif) dari tindakan mitigasi bencana dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sangat penting mengintegrasikan perencanaan mitigasi bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional maupun daerah.
Kunci utama pengurangan resiko bencana adalah menjaga kepedulian (awareness) yang berkesinambungan dari generasi ke generasi agar tercipta kesiapsiagaan (preparedness) terhadap potensi ancaman bahaya (hazard) di wilayah masing-masing. Prinsipnya adalah dengan “pendidikan” yang konsisten dan terus menerus, tersistem melalui berbagai cara dan media.
Dari diskusi kecil terungkap pula istilah “kelenturan” oleh Pak Harsono, peneltii senior Oceanologi – LIPI. Jadi tidak saja kerentanan suatu masyarakat, melainkan juga tingkat kelenturan sangat menentukan suatu proses mitigasi dan recovery suatu bencana. Masyararakat yang tingkat kelenturannya cukup tinggi akan mampu adaptasi cepat dengan kajdian gempa yang baru saja terjadi. Mereka cepat tanggap dan pulih dengan sendirinya.
Kaidah bencana: “Bencana terjadi ketika manusia lengah”. Bencana-bencana yang sifatnya “low frequency high consequence” atau “low frequency high impact”, semacam tsunami, justru sering menimbulkan jumlah korban yang sangat besar. Frekuensi kejadiannya yang sangat jarang membuat orang lupa, atau bahkan orang tidak tahu lagi karena sdh berganti generasi. Apalagi kalau sampai seribu tahun, mungkin sdh berganti 10 atau 12 generasi. Ketika generasi yang baru saja mengalami bencana, contoh tsunami, kembali lagi bertempat tinggal di lokasi yang pernah terlanda tsunami (dengan alasan tsunami masih akan terjadi 200 tahun lagi), maka sesungguhnya yang bersangkutan sedang menanam bencana untuk generasi penerusnya yang tidak tahu bahwa sesungguhnya mereka tinggal di wilayah yang sangat rawan bencana.
Terakhir, terima kasih untuk narasumber utama, Pak Dinar, moderator diskusi, Mas Aghny dan narasumber lainnya yang telah menambah pengetahuan dan wawasan akan pentingnya mitigasi bencana.
Washington (ANTARA News) – Jerman mendahului Amerika Serikat untuk menjadi pemain nomor dua di bidang energi bersih sedangkan China terus memimpin investasi hijau dunia, kata sebuah studi Selasa. Pertumbuhan kuat dalam skala global di bidang energi terbarukan seperti matahari, angin dan lainnya, merupakan temuan dalam survei yang diadakan Pew Charitable Trusts. Inggris menjadi satu kekecualian besar, yang mengalami penurunan tajam setelah pemerintahan yang baru berkuasa.
” Terus terang apa yang kami yakini semuanya bermuara pada kebijakan,” kata direktur Pew Clean Energy Program, Phyllis Cuttino kepada Shaun Tandon dari AFP yang dipantau ANTARA News. “Jerman dan China memiliki standar energi terbarukan yang ambisius dan, tentu saja dalam kasus Jerman, mereka juga memiliki tarif feed-in yang benar-benar membantu mereka,” katanya, menunjuk pada pemberian insentif guna menghasilkan daya hijau.
China, yang setahun sebelumnya mengungguli Amerika Serikat sebagai pemimpin hijau, tumbuh tiada henti. Investasi energi bersih mencapai 54,4 miliar dolar pada 2010, naik 39 persen dari tahun sebelumnya, kata laporan Pew. Studi tersebut mengestimasi bahwa China — yang sedang memerangi polusi berat dan tak salah lagi sebagai produsen teratas emisi karbon yang dipersalahkan karena manyebabkan perubahan iklim — kini menghasilkan hampir separuh modul angin dan matahari dunia.
Investasi energi bersih Jerman berlipatganda menjadi 41,2 miliar dolar, menempatkan negara itu di peringkat kedua, kata studi tersebut. Jerman menggenjot produksi baik listrik matahari maupun angin — khususnya proyek matahari kecil yang menambahkan jika dilihat secara keseluruhan.
Amerika Serikat, meski merosot ke peringkat tiga, masih menikmati 51 persen pertumbuhan investasi energi bersih, kata studi tersebut. AS memainkan peran penting dalam inovasi dan permodalan energi hijau, namun ketinggalan dalam manufaktur, kata studi tersebut. Survei tersebut juga melaporkan peningkatan investasi energi bersih lebih dari dua kali lipat baik di Italia, yang menduduki peringkat keempat secara keseluruhan dan Australia, yang berada di peringkat ke-12.
Namun investasi energi bersih Inggris mengalami penurunan 70 persen, keluar dari 10 besar, karena bisnis ragu dengan proyek angin lepas pantai setelah Perdana Menteri David Cameron mengambilalih kekuasaan dengan misinya merampingkan pengeluaran. “Pemerintah koalisi pastinya telah memberi sinyal kepada para investor bahwa segala sesuatunya tidak pasti dan itulah cara para investor bereaksi,” kata Cuttino.
Indonesia Turun
Investasi energi bersih Indonesia dan Korea Selatan juga mengalami penurunan, meskipun para pengarang studi ini mengatakan kemungkinan kedua negara tersebut akan kembali naik seturut arah kebijakan negara tersebut.
Jepang, yang mempunyai industri energi bersih hampir secara eksklusif bersumber dari matahari, investasinya naik moderat 10 persen. Cuttino memrediksi, kedepan sebagai ekonomi terbesar ketiga dunia, Jepang dalam dekade mendatang telah menetapkan target pertumbuhan ambisius. Riset tersebut dilakukan sebelum gempa bumi Jepang yang meluluhlantakkan pada 11 Maret, yang menyebabkan krisis di pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah mengundang pemeriksaan baru atas energi atom di seluruh dunia.
Amerika Serikat mengalami pertumbuhan di bidang energi bersih bahkan meskipun upaya-upaya yang dipimpin Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat untuk memberi mandat pengurangan emisi karbon mati tahun lalu di Kongres.
Pemerintah Obama berharap akan menemukan kesamaan pendapat dengan rivalnya Partai Republik untuk mendorong energi bersih tanpa memokus pada perubahan iklim itu sendiri — masalah yang sangat kontroversial di Kongres. Menteri Energi AS Steven Chu mengatakan minggu lalu bahwa dia berharap harga energi angin dan matahari akan mampu bersaing dengan proyek minyak dan gas sebelum akhir dekade ini. Mantan gubernur Jennifer Granholm, seorang Demokrat dari Michigan, mengatakan perusahaan-perusahaan yang melakukan investasi di negara bagiannya, yang perekonomiannya terpuruk selama 18 bulan hingga Desember, diproyeksikan akan menciptakan 63.000 lapangan pekerjaan hijau. “Itu bukan perubahan bodoh,” katanya dalam even Pew.
“Sebagai orang Amerika kami mempunyai pilihan — kami dapat membuat keputusan bahwa kami pasti akan mendapat keuntungan dan memasuki permainan yang pertumbuhannya besar sekali ini, atau kami dapat melakukan apa yang tengah kami jalankan.” (ANT/K004)

WASHINGTON–Para ahli astronomi Amerika Serikat telah menemukan planet terkecil di luar sistem tata surya galaksi Bima Sakti atau “milky way“. Sebuah teleskop luar angkasa, Kepler telah dikirim ke antariksa untuk mencari hunian baru di luar angkasa dan menemukan sebuah planet yang ukurannya hampir sebesar bumi. Planet baru itu dinamakan 10-b yang berjarak sejauh 560 tahun cahaya dari bumi.
Planet 10-b berjarak 20 kali lebih dekat kepada bintangnya daripada jarak planet Merkury kepada matahari di galaksi Bima Sakti. Kepadatan planet tersebut lebih tebal 4,5 kali dan lebih besar 1,4 kali daripada planet bumi.
Menurut perhitungan para ahli astronomi 10-b sangat panas dan bersuhu sebesar 1.500 derajat Celsius. Seorang ahli astronomi yang bekerja di Pusat Badan Aeronautika dan Antariksa Nasional (NASA) di Washington, Douglas Hudgins mengatakan bahwa mereka menemukan sebuah planet yang berukuran hampir menyamai bumi.
Dia juga menekankan bahwa penemuan mereka merupakan batu loncatan untuk menemukan sejumlah planet baru yang dapat dihuni (Republika Januari 2011)

Banjir lagi, banjir lagi. Jakarta di tangan ahlinya saja masih kewalahan menghadapi fenomena yang satu ini. Jangankan menghilangkan, meminimaliskan banjir saja bukan main susahnya. Perilaku masyarakat dituding menjadi penyebab terjadinya banjir atau genangan. Membuang sampah sembarangan sehingga drainase menjadi tersumbat memang merupakan pemandangan sehari-hari, terutama di wilayah-wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung.
Curah hujan yang tinggi, penumpukan sampah, pendangkalan sungai, drainase buruk, dan minimnya tanah resapan, merupakan penyebab banjir di Jakarta yang sudah lama teridentifikasi. Pesatnya urbanisasi ke Jakarta menjadi salah satu faktor kondisi ini.
Tidak diperkirakan sebelumnya, dalam kurun waktu seratus tahun saja sungai-sungai di Jakarta telah mengalami penurunan kualitas sangat besar. Pada abad XIX, air sungai-sungai di Jakarta masih bening sehingga bisa digunakan untuk minum, mandi, dan mencuci pakaian.
Bahkan ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung banyak dipuji-puji pendatang asing. Disebutkan, pada abad XV – XVI Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota. Hal ini sangat dirasakan para pedagang yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika itu Ciliwung mampu menampung 10 buah kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton, masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda Kelapa. Kini jangankan kapal besar, kapal kecil saja sulit melayari Ciliwung karena baling-baling kapal hampir selalu tersangkut sampah.
Sumber lain mengatakan, selama ratusan tahun air Ciliwung mengalir bebas, tidak berlumpur, dan tenang. Karena itu banyak kapten kapal asing singgah untuk mengambil air segar yang cukup baik untuk diisikan ke botol dan guci mereka. Jean-Baptiste Tavernier, sebagaimana dikutip Van Gorkom, mengatakan Ciliwung memiliki air yang paling baik dan paling bersih di dunia (Persekutuan Aneh, 1988).
Dulu, berkat Sungai Ciliwung yang bersih, kota Batavia pernah mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota-kota ternama di Eropa, seperti Venesia di Italia. Karena dikuasai penjajah, tentu saja kota Batavia dibangun mengikuti pola di Belanda. Ciri khasnya adalah dibelah oleh Sungai Ciliwung, masing-masing bagian dipotong lagi oleh parit (kanal) yang saling sejajar dan saling melintang. Pola seperti ini mampu melawan amukan air di kala laut pasang, dan banjir di dalam kota karena air akan menjalar terkendali melalui kanal ke segala penjuru.
Kemungkinan bencana ekologi di Jakarta mulai terjadi sejak 1699 ketika Gunung Salak di Jawa Barat meletus. Erupsinya berdampak besar, antara lain menyebabkan iklim Batavia menjadi buruk, kabut menggantung rendah dan beracun, parit-parit tercemar, dan penyakit-penyakit aneh bermunculan. Maka kemudian orang tidak lagi menjuluki Batavia sebagai “Ratu dari Timur”, melainkan “Kuburan dari Timur”. Bencana ini berdampak pada pemerintahan di Batavia yang mulai goyah karena banyak pihak saling tuding terhadap musibah tersebut.
Para pengambil kebijakan terdahulu dinilai salah karena telah membangun kota dengan menyontoh kota gaya Belanda. “Batavia adalah kota bercorak tropis. Berbeda jauh dengan Belanda yang memiliki empat musim,” begitu kira-kira kata pihak oposisi. Sebagian orang menduga, bencana ekologi itu disebabkan oleh kepadatan penduduk. Batavia memang semula dirancang sebagai kota dagang. Karenanya banyak pendatang kemudian menetap secara permanen di sini. Sejak itulah perlahan-lahan Ciliwung mulai tercemar. Berbagai limbah pabrik gula dibuang ke Ciliwung. Demikian pula limbah dari usaha binatu dan limbah-limbah rumah tangga, karena berbagai permukiman penduduk banyak berdiri di sepanjang Ciliwung.
Dalam penelitian tahun 1701 terungkap bahwa daerah hulu Ciliwung sampai hilir di tanah perkebunan gula telah bersih ditebangi. Sebagai daerah yang terletak di tepi laut, tentu saja Batavia sering kali kena getahnya. Kalau sekarang Jakarta hampir selalu mendapat “banjir kiriman” dari Bogor, dulu “lumpur kiriman” bertimbun di parit-parit kota Batavia setiap tahunnya.
Pada awal abad ke-19 Batavia tidak lagi merupakan benteng kuat dan kota berdinding tembok. Karenanya, pada awal abad ke-20 Batavia sudah menjadi kota yang berkembang dengan penduduk berjumlah 100.000 orang. Bahkan dalam beberapa tahun saja penduduk kota sudah meningkat menjadi 500.000 orang.
Adanya nama-nama tempat yang berawalan hutan, kebon, kampung, dan rawa setidaknya menunjukkan dulu Jakarta merupakan kawasan terbuka yang kini berubah menjadi kawasan tertutup (tempat hunian). Sejak membludaknya arus urbanisasi itu, pendangkalan Ciliwung dan sungai-sungai kecil lainnya terus terjadi tanpa diimbangi pengerukan lumpur yang layak. Pada 1960-an, misalnya saja, sejumlah sungai kecil masih bisa dilayari perahu dari luar kota. Waktu itu kedalaman sungai mencapai tiga meter. Namun kini kedalaman air tidak mencapai satu meter.
Sayang, semakin derasnya arus urbanisasi ke Jakarta, kondisi Ciliwung semakin amburadul. Banyaknya permukiman kumuh di Jakarta menyebabkan Ciliwung beralih fungsi menjadi “tempat pembuangan sampah dan tinja terpanjang di dunia”. Banjir besar mulai melanda Jakarta pada 1932, yang merupakan siklus 25 tahunan. Penyebab banjir adalah turun hujan sepanjang malam pada 9 Januari. Hampir seluruh kota tergenang. Di Jalan Sabang, sebagai daerah yang nomor satu paling parah, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Banyak warga tidak bisa keluar rumah, kecuali mereka yang beruntung memiliki perahu (Jakarta Tempo Doeloe, 1989).(Djulianto Susantio)